Angkasa & Bulan

Angkasa & Bulan

  • WpView
    přečtení 99
  • WpVote
    Hlasy 17
  • WpPart
    Části 2
WpMetadataReadRozepsáno
WpMetadataNoticeNaposledy publikováno stř, dub 29, 2020
Tidak semua umat manusia mendapatkan kesempurnaan dalam hidupnya, termasuk orang yang berkuasa sekaligus. Memiliki bukan berarti mempunyai seutuhnya, benda mati saja dapat rusak secara berlahan, dan begitu pula dengan manusia ia juga bisa pergi menghilang, rusak, bahkan mati. Didunia tidak banyak yang dapat dipercaya dengan senang hati, terlebih jika seseorang telah mengalami apa itu ditinggalkan, bagaimana rasanya diacuhkan, dibuang dan dilupakan. Dalam kehidupan ini tidak ada yang Bulan harapkan, termasuk bahagia. Tidak sedikitpun ia harapkan, karena yang ia butuhkan sekarang hanyalah dunianya sendiri tanpa adanya gangguan orang tak penting, karena ia tidak pernah memiliki kepercayaan dikehidupannya untuk siapapun. Cukup diketahui bahwa kepercayaan bagaikan sebuah kaca, jika dirawat ia akan tetap sempurna dan sebaliknya . Dan itulah yang Bulan rasakan didalam hidupnya. Namun bukan kehidupan namanya jika keinginan Bulan berjalan mulus, semua keinginan Bulan hancur berkat gangguan dari sang Angkasa
Všechna práva vyhrazena
#537
lelah
WpChevronRight
Připoj se k největší komunitě vypravěčůZískej personalizovaná doporučení příběhů, ukládej si oblíbené do své knihovny a komentováním i hlasováním buduj komunitu.
Ilustrace

Taky se ti může líbit

  • Bulan Bintang
  • Bulan [End]
  • Rain And Tears [Proses Revisi]
  • BINTANG&BULAN
  • Cinta Pertama Rembulan
  • " BYE "
  • Segelap Malam (END)
  • LANGIT YANG TAK PERNAH PULANG
  • Alaskar dan Bulan

Ia yang dijuluki Bintang, Skayara Bintang Adhiyaksa. Ia bukan langit yang dipuja, tapi serpih cahaya kecil yang berusaha tetap menyala di tengah gelap. Seorang penghuni pagi yang berjalan dalam sunyi, membelah dingin dengan sepeda motor renta yang kini lebih sering batuk daripada berjalan. Hidupnya adalah barisan luka yang diolesi senyum retak tapi tetap indah. Setiap hari ia menjamu waktu dengan aroma kopi dan kepulan harapan hidup. Tangannya menari di antara cangkir dan kerinduan yang diam-diam ia telan dalam hirupan pertama. Ia menyapa dunia dengan tutur lembut, walau isi hatinya dipenuhi tanda tanya: "Sampai kapan aku harus kuat?" Tak banyak yang melihat kehidupannya, tapi ia adalah puisi berjalan disusun dari kepingan lelah, dipoles oleh harap. Ia tak bersinar terang, tapi cukup gemerlap untuk diingat oleh langit yang pernah kehilangan bintangnya. Ia yang dinamai Bulan, Raespati Bulan Sadipta. Lelaki itu adalah senyap yang bersuara. Diamnya bukan karena tak peduli, tapi karena ia menyimpan terlalu banyak sakit yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Ia tinggal di antara deru mesin dan debu jalanan, di mana suara knalpot adalah musik, dan peluh Tangannya kasar seperti jalanan rusak, tapi setiap gerakannya adalah sajak membenahi yang rusak, menyambung yang patah, menghidupkan yang mati. Bengkelnya kecil, nyaris tersembunyi oleh waktu, tapi hatinya luas, menyimpan matahari yang enggan terbit. Ia tak mencari dunia. Ia hanya ingin bertahan. Hidupnya adalah malam panjang yang ditemani bulan sabit: separuh terang, separuh gelap, namun tetap bertahan menggantung di langit. Dan dalam diamnya, ia berharap seseorang akan datang bukan untuk menyelamatkan, tapi untuk duduk bersamanya dalam sunyi.

Více informací
WpActionLinkPokyny k obsahu