[Jangan lupa follow]
Sisil dan Devan memiliki masa lalu dengan orang yang sama, namun dengan kejadian yang berbeda. Sehingga membuat mereka 'memandang' orang tersebut dengan tatapan berbeda pula.
Masa lalu kelam Devan dengan 'dia' membuat mereka saling membenci.
Namun bagi Sisil, sosoknya adalah yang paling dia rindukan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Gue nggak tau harus seperti apa kita menyebut hubungan ini. Jangan tanya lagi, ya."-Devan Astariksa
"Lo selalu bikin gue nyaman, tapi apa boleh gue minta hubungan ini lebih dari sekedar sahabat?" -Silvya Risvanka (Sisil)
"Diamlah!" -Alandra Rayastra
Percayalah, ini bukan tentang persahabatan yang berubah menjadi cinta.
Duduklah dan lihat bagaimana permainan takdir mereka.
Hai^^ panggil aja aku Charmy
Btw, ini cerita pertamaku, so aku harap kalian suka
Jangan lupa follow, vote dan comment ya^^
Kritik serta saran kalian sangat aku butuhkan^^
26 April 2020❤️
[ #1 in Rain, 01-09-2018 ]
[ #20 in Teen Lit, 11-09-2018 ]
[ #51 in Teen Fiction, 11-09-2018 ]
Di saat aku membenci hujan, dia datang. Dia datang dengan segala intuisinya tentang hujan. Dia datang dengan segala kecintaannya dengan hujan. Aku jatuh cinta padanya. Sama seperti aku mencintai hujan karenanya.
Tapi di hari itu, ia menghilang. Aromanya tak tercium lagi. Jejaknya sudah tak nampak lagi. Syahdunya tak terasa lagi. Ia pergi sebelum aku benar-benar memilikinya. Ia pergi sebelum aku benar-benar mempercayainya. Ia pergi meninggalkan rasa dan juga tanda tanya.
Dan, di mana tepat pada 228 hari aku mengenalnya, aku baru mengerti semuanya. Tentang beberapa hal yang sengaja dia sembunyikan, dan juga tentang kenapa dia menyembunyikannya. Saat itu, aku merasakan kehadirannya.
***
"Tentang seberapa pentingnya menutup rapat lembaran lama, tatkala lembaran baru mulai terbuka." -Syachwaldan Rizky