KALA ITU

KALA ITU

  • WpView
    Reads 67
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 7, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Kala itu di tepi danau, sepasang kekasih berjanji bahwa akan selalu ada disaat senang maupun susah. Berjanji bahwa tidak akan ada yang mengingkari apalagi sampai mengkhianati. Namun, janji hanyalah sebuah khayalan tanpa bukti. Nyatanya, mengkhianati adalah kebanggaan suatu hati. Tanpa sadar, bahwa memang seharusnya tidak menaruh harapan pada omong kosong manusia-manusia di dunia ini. Bercerita tentang seorang gadis yang memiliki trust issue pada semua orang. Hingga memutuskan untuk tidak percaya pada siapapun lagi. -Asterliy- @asterliy
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dalam Diam, Aku Menjagamu
  • À PROPOS DE NOUS [HIATUS]
  • Promise
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
  • Silence In Their Minds
  • CAN YOU READ THE NEW CHAPTER FOR ME?
  • ARGANTA (END)
  • Yang Pernah Patah
  • IMPERFECT

Malam merangkak pelan, membawa serta dingin yang menembus sampai ke tulang. Di luar jendela tua itu, hujan turun perlahan seperti mengenali duka yang belum sempat pulih. Dan di dalam ruangan itu, ia duduk-diam, namun tidak tenang. Arlya Dhevani. Perempuan dengan tatapan setegar karang, namun menyimpan luka seperti lautan dalam. Tidak ada pelukan yang pernah ia minta, tidak ada bahu yang ia harapkan. Ia membiasakan diri untuk menjadi utuh sendirian, sebab dunia tak pernah benar-benar ramah pada hati yang lemah. Tiga tahun lalu, seseorang merenggut kenyamanan hidupnya. Sejak itu, ia menanam prinsip: jangan percaya siapa pun. Maka ketika semua orang menyerah padanya, Arlya bangkit. Dengan tangan sendiri, ia bangun dinding yang tak terlihat. Satu-satunya yang tersisa kini adalah dirinya sendiri-dan dendam yang ia lipat rapi dalam dada. Tapi di sisi lain kota, seorang pria berdiri di balik kabut jendela. Matanya memandangi rumah sederhana itu. Tidak pernah sekalipun ia mendekat. Tidak pernah sekali pun ia bicara. Namun, tidak juga ia pergi. Ia hanya berdiri-di sana-dalam diam. Menjaga. Mendoakan. Mengintai dari bayangan. Dan jika Arlya tahu bahwa dia masih hidup... apa yang akan ia lakukan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines