Manufaktur Rasa

Manufaktur Rasa

  • WpView
    Reads 101
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 1, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Marcenno William Olliver tidak pernah menikmati hidupnya, bahkan sampai tiga puluh tahun sudah berlalu, dirinya kira hidupnya tidak pernah benar benar bahagia. Kecuali, setelah dirinya bertemu dengan sosok Crystall Johana Sandjaya, satu satunya gadis yang ingin Cenno perjuangkan. Namun jika gadis itu justru memilih sahabatnya, apa yang bisa Cenno perjuangkan lagi? ● Kaki nya yang pincang, tidak menyurutkan niat seorang Jihan Pertiwi untuk terus semangat dan berbahagia menjalani hidup nya. Ditambah kegigihannya untuk terus mencari sang kakak yang hilang karena sebuah insiden, tujuh belas tahun yang lalu, membuat nya selalu yakin, bahwa dirinya dapat berkumpul kembali dengan satu satunya keluarga yang masih tersisa. Tidak pernah sekalipun Jihan memikirkan masalah asmara, lagipun tak akan ada yang mau dengan gadis panti dan pincang sepertinya. Tapi jika sekelebat rasa cinta itu mampir dalam sela hidupnya, apa yang akan Jihan lakukan? ● Another Story Jihyo and Sehun 18+ LocalAu Mature Crackship
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Hanya Denganmu (PENDING)
  • Finally, I Got You!- Guanlin Lai✔
  • SAPTA HARSA {TERBIT} ✓
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • Extraordinary Supporting Actress✔️
  • Straight With You
  • Na Jaemin : Crazy Rich Jaemin [Completed]
  • Sang Penegak Hukum (End)
  • ~~Kebahagiaan Untuk Aaron~~

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines