MEMORIES : THREE YEARS AGO

MEMORIES : THREE YEARS AGO

  • WpView
    Reads 241
  • WpVote
    Votes 72
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2020
Aku merindukanmu Perkataan tanpa suaramu selalu menjadi kenangan termanisku Bagaikan gula dalam segenggam obat pahit ditanganku Bahkan sampai waktu berlalu 3 tahun lamanya Kan ku tuliskan kisah kita Kisah sederhana yang mampu membuat iri para pemanah cinta Kisah yang akan menghilang seperti embun di pagi hari Perlahan tapi menyakitkan Kisah yang akan termakan rakus oleh rasa sakitku. ******* Bagaimana jika sisa kenanganmu dengannya di ambil secara perlahan? Seperti ada bom waktu yang ketika meledak, kenanganmu dengannya akan menjadi debu yang tak berarti. Hal itu yang dirasakan Ruby. Penyakit di kepalanya perlahan menggerogoti semua kenangan dengan sang malaikatnya. Lalu apa yang akan Ruby lakukan untuk menjaga kenangannya? Apakah dia akan melawan Tuhan dengan mengingkari janjinya? Ps: angst
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Welcome Home, Saga!
  • Laura Dan Leo
  • FANI : He's Edgar Erzantara
  • CACING PITA
  • SAH! [SUDAH DITERBITKAN]
  • GREENSTA [END]
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines