Our Story [1]

Our Story [1]

  • WpView
    Reads 188
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Aug 7, 2020
"Jadi, gini akhirnya?" ucapnya yang terdengar sedih, aku tau bagaimana perasaannya yang menahan rasa sakit karena ulah-ku, tapi aku juga tidak jauh beda dengan dia, aku bahkan menahan lebih banyak rasa sakit ini agar terlihat baik baik aja di depannya. "Maaf." hanya itu yang bisa kulakukan, aku tidak tahu cara bagaimana lagi akhirnya dan aku lebih memilih dengan cara-ku sendiri. Maafkan aku, bahkan aku tau maaf saja tidak cukup dengan kesalahan yang telah ku perbuat padamu. "Baik," dia menarik nafas dan aku tahu dia mencoba untuk tersenyum walaupun aku tahu keadaan dia tidak baik-baik aja saat ini, "Semoga bahagia." lanjutnya dan pergi. aku menatap kepergiannya dengan pilu, maafkan aku, aku tidak tahu harus berbuat apa selain cara ini, maafkan aku. maaf. Teenfic, romance. All pictures from: Pinterest
All Rights Reserved
#18
sorry
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ABOUT ME : Aku Ingin Istirahat
  • Dear You
  • ALSTARAN [END]
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • RadenRatih
  • Marry With My Senior ( SUDAH DIBUKUKAN DAN TERSEDIA DI APLIKASI DREAME)
  • Rasa Tanpa Kata
  • Bersamamu
  • CLOSER
  • LOVE AND FRIENDSHIP ( R & J : 1 )

"Kamu harus mendapatkan nilai sempurna." Ucap papaku dengan suara tegas, seolah-olah aku tak punya pilihan selain menjadi sempurna di matanya. "Kamu harus selalu mengalah dengan kakakmu." Ucap mamaku tanpa ragu dan menuntut. Bagi mama, akulah yang harus mengerti kakak dan mengalah jika bertengkar dengan kakak entah kakak yang benar atau salah. "Ini semua salahmu! Andai saja aku tak memiliki adik sepertimu!" Ucap kakakku dengan mata penuh kebencian, seakan keberadaanku adalah kutukan yang merusak hidupnya. "Kakakmu itu sudah sangat menderita, jadi kamu harus mengerti dia." Ucap nenekku, seperti akulah yang membuat kakak semakin menderita. "kamu mah enak! kamu pintar dan punya orangtua kaya!! Ga ada yang kurang dari hidupmu." Ucap salah satu teman perempuanku dengan nada iri, tanpa tahu betapa sepinya hidupku. "kamu beda banget sama kakakmu ya. Kakak mu cantik banget, tapi kamu? Jelek parah." Ucap salah satu teman laki-lakiku sambil tertawa, seolah aku hanyalah lelucon menyedihkan di matanya. "Terima kasih... Kamu selalu menjadi pendengar yang baik." Ucap sahabatku dengan nada lembut, tapi entah kenapa kata-katanya terasa seperti pengingat bahwa aku hanya ada untuk mendengar, bukan untuk didengar. Lalu, kakek menatapku. Matanya teduh, penuh kasih, berbeda dari yang lain. "Apa kamu benar-benar baik-baik saja, cucuku?" Ucap kakekku, satu-satunya suara yang terdengar tulus di antara semua itu. Aku ingin menangis. Aku ingin berteriak bahwa aku tidak baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku lelah, bahwa aku tak tahu harus bagaimana lagi. Tapi aku tersenyum lebar pada kakekku. Aku menahan air mataku agar tak jatuh, karena aku tahu... air mata tidak akan mengubah apa pun. "Aku baik-baik saja." Ucapku dengan nada ceria yang ku paksakan, seperti biasa. • Hasil karya sendiri • bahasa baku dan non baku • maaf kalau ada kesamaan tempat, nama, dsb dalam cerita *** Happy_Reading ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines