We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Mengapa Engkau Membenci Sang Angin?

Mengapa Engkau Membenci Sang Angin?

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 9, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Suatu ketika, angin membawaku menujunya. Gadis manis dengan tahi lalat di bawah mata kanannya. Gadis dengan segudang mimpi dan harapan tiba di depanku. Seseorang yang memiliki hati yang polos, menanti tiada henti. Suatu ketika juga, angin menghempaskan ku menuju tempat itu. Daratan luas dengan hamparan bunga dandelion. Dandelion. Bunga favorit gadis itu. Apalah arti keindahan dandelion tanpa ada bantuan hembusan sang angin. Suatu hari juga, angin malam menuntunku menuju tepi pantai indah tempat gadis itu. Gadis itu sedang bernyanyi. Menjentikkan jari dengan indahnya. Ditemani sorot lampu taman, suara deburan ombak, dan seekor kucing yang tertidur pulas. Gadis itu tetap menyanyi. Tapi yang kurasakan, kata-katanya kosong. Iya, kosong tak berarti. Tapi, Suatu hal yang kosong tentu dapat diisi bukan? Tapi.... Bagaimana? Tentang diriku. Tentang dirinya, cello, dandelion, dan angin.
All Rights Reserved
#14
angin
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Bumblebee {Nohyuck} Going To Season 2
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Perihal Sandwich(End)
  • Winter
  • Perder El Amor
  • DANDELION

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines