Antara Raga, Rasa, dan Rahasia

Antara Raga, Rasa, dan Rahasia

  • WpView
    Reads 3,425
  • WpVote
    Votes 347
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 23, 2025
Sepenggal kisah dengan beberapa tokoh, watak, dan karakter fiksi ciptaan penulis. JIKA ADA BAGIAN YANG TIDAK RAPI, REMOVE CERITA INI DARI LIBRARY KALIAN, LALU MASUKKAN LAGI YA! _____________________________ Perihal Raga, Rasa, dan Rahasia. Kisah dengan sudut pandang orang ketiga, menceritakan kehidupan si tokoh dalam cerita. Labirin pikiran Ragana Dirdagta, kehidupan Re --seorang gadis dengan dua huruf sebagai namanya, dengan fakta yang menjadi akhir dari segalanya. Berawal dengan keraguan sahabatnya karena Re seolah memiliki sifat menyerupai bunglon. Sering berubah-ubah namun sulit untuk ditebak. Tapi itulah karakter yang ia miliki. Tidak ingin mengubah apapun dalam dirinya dan selalu membentengi diri dengan kata, "Ya, ini gue. Lo nggak suka, bukan urusan gue. Pergi ya pergi, tinggal ya tinggal. Kalau mau temenan sama gue nggak ribet, kan?" Oleh sifat itulah ia mendapat tanggapan beragam dari orang lain. Re yang hanya ingin hidup dengan tanpa halangan apapun namun nyatanya kisah SMA gadis itu terlukis dengan gambaran kelam. Walau berusaha menyusun warna pelangi, awan hitam tetap akan merusak keindahan. Namun bagaimana ia ketika bersama Raga? Berubah kah ia karena sifat dominan Ragana? Atau masih mempertahankan motto, 'Nggak suka? Nggak urus!' Kombinasi yang membuat kehidupan menjadi seperti permen nano-nano. Mereka yang menjalani hidup dengan cara masing-masing, hingga waktu yang akan mengungkap fakta di balik kisah keduanya. Namun, warna apa yang Tuhan berikan untuk mempercantik garis takdir kehidupan kali ini? *** "Gemintang mungkin bukan satu-satunya, pun juga rembulan yang memiliki banyak jenis lain di atas sana." --Antara Raga, Rasa, dan Rahasia Selamat datang di kisah 'Antara Raga, Rasa, dan Rahasia.' Kisah imajinasi dengan reliku labirin si tokoh sebagai pemanisnya. 🔰Tinggalkan vote bila suka, share bila layak dibaca, koment suka-suka. 🔰Terserah kalian mau bagaimana, asal jangan menghina karya saya. Keep read and stay tune
All Rights Reserved
#506
puitis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Raga Arga  [Sudah Terbit]
  •  ANATHA
  • LET'S CHANGE - YONGNIE, YULICE
  • RAGA
  • I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon
  • The Dark Side(END)
  • JUST BE MINE [END]
  • KEPERGIAN SENJA
  • I Became The Antagonist
  • Ruang Biasa

Jika ditanya apa yang spesial dari kehidupan si kembar, Raga dan Arga, mungkin jawabannya tidak ada, andai keduanya tidak pandai-pandai bersyukur. Bagaimana tidak, kepergian sang bunda menjadi titik awal kehidupan mereka yang sesungguhnya. Getir pahit melekat di dalamnya. Arga disalahkan oleh neneknya atas kepergian sang bunda. Lantas rasa bersalah dan trauma yang begitu besar terpatri kuat dalam dirinya, sejak saat itu hidupnya berubah seiring dengan jiwa yang bergonta-ganti mengisi raganya. Kadang, ketika bangun tidur Arga akan merengek layaknya anak kecil yang mencari bundanya. Kadang juga Arga menjadi sosok yang membenci dirinya sendiri, menghancurkan cermin yang ada di kamarnya, lalu berujung menyakiti dirinya sendiri. Raga, nyatanya wajah tampan dan unggul dalam basket tak lantas membuatnya dipandang. Bagi teman sekelasnya, Raga tak lebih dari sampah yang harus cepat-cepat dibersihkan. Bukan Raga tak mau melawan mereka, hanya saja rasanya percuma, mereka terlanjur menjadi budak sekolah yang gila nilai. Lalu, mampukah keduanya menjalani dan melawan segala getir pahit dalam kehidupan? Atau memilih menyerah, berpasrah pada Tuhan? *** Bukan skenario hidup seperti ini yang aku inginkan, memerani tiga tokoh sekaligus dalam satu kali kesempatan hidup. Andai bisa aku ingin terlahir kembali menjadi aku yang hanya satu- Samudra Arga Pratama Aku lelah menjadi senja yang ditunggu dan dikagumi di penghujung waktuku-Samudra Raga Dwitama *** Takkan gugur daun yang menguning itu jika memang belum habis waktunya. Takkan turun rintik hujan itu sekalipun langit telah menggelap jika memang belum saatnya. Pun dengan jantung yang takkan berhenti berdetak jika memang Tuhan belum berkehendak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines