Kepingan Wajah Luna (Cerpen)

Kepingan Wajah Luna (Cerpen)

  • WpView
    Reads 81
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureComplete Fri, May 1, 2020
Luna mendapati dirinya berada di tempat asing bersama seseorang yang tidak dikenalnya. Namun Luna tidak ingat bagaimana ia bisa sampai berada di tempat itu dan apa yang dilakukannya di sana. Yang ia ingat terakhir kali adalah ia sedang tidur di rumah. Luna juga tidak ingat dirinya bernyanyi di mobil Erlan, melakukan sesuatu yang ia tidak suka, hingga mengajak kekasihnya itu bercinta di jok belakang. Seingatnya, ia tertidur di jok depan tak lama setelah masuk ke dalam mobil. Sesuatu terjadi saat Luna tidur... Ia berubah menjadi orang lain. **** Catatan: Cerpen ini sudah pernah di-published sebelumnya di Wattpad dengan judul "Waktu yang Hilang" dan mengalami beberapa kali pengeditan (~2013). April 2020 judul dan isi direvisi dan dikembangkan lagi untuk diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen/novel di platform lain.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kemana Arah Pulang?
  • Sew The Heartmade (akan terbit dengan judul :Love You, Orin)
  • Story In July [End] ✔
  • Gone(✔)🔚
  • AKALA ; My heart beats for Miss
  • Pangeran Es
  • Cantika Story | Eunha x Eunwoo ✔
  • QUEEN RERE [END]
  • Destiny Changing Action
  • Rintik Hujan

Insiden yang merenggut kedua orang tua mereka telah mengubah segalanya. Rumah yang dulu penuh dengan tawa dan kebahagiaan kini terasa hampa dan penuh kesedihan. Setiap sudut rumah yang mereka tinggali kini penuh dengan kenangan akan masa lalu, dan rasa kehilangan yang tak terhingga. Lima bersaudara itu terjebak dalam arungan luka tak kasat mata. Terkunci dalam labirin ketakutan yang tanpa sadar telah mengikis tali persaudaraan mereka. Maraga, si sulung yang harus merelakan masa kuliahnya dan beralih menjadi tulang punggung keluarga. Reshaya, sang kakak kedua yang enggan berbagi duka. Hendara, si anak tengah yang selalu menangis di sepertiga malam hanya karena merindukan Bunda. Dan si kembar, Juandika dan Anandika yang sama-sama memendam sesak tak berkesudahan. "Aku kangen rumah yang dulu." "Kita berdamai sama-sama ya? Jangan ada lagi yang di pendam." Written by Kala Rune Desember, 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines