Roomousist || •COMPLETE

Roomousist || •COMPLETE

  • WpView
    Reads 1,094
  • WpVote
    Votes 216
  • WpPart
    Parts 27
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jul 4, 2020
"Jangan dibaca jika cerita ini berefek buruk dan tidak memiliki faedah apapun pada diri Anda. Jika Anda memutuskan membacanya, berarti anda siap menerima suasana baru daricerita-cerita lain di luar sana." NufhaJaa From Tsabita Tsana Sampai kapanpun aku telah berjanji, aku akan membenci itu. Walaupun aku ingin berbaik hati dan membuka diri. Namun, apa harus aku ingkari perkataanku sendiri? Aku masih ingta betul perkataannya. "Kan kukabulkan keinginanmu meski papa sakit mendengarnya." Selain pada hal dasar seperti itu, hatiku pun telah terpatri untuk menuntaskan apa yang terlanjur membasahi diri ini **** Ps. Silahkan mampir ke profil aku dan baca aturan yang kubuat untuk kalian yang akan bergabung dan membaca karya-karyaku. Terima kasih :)
All Rights Reserved
#56
good
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • My Darkness Girl[TAMAT]
  • ALEYA~~
  • ALVIN (On Going)
  • Self Injury's(complete)✔
  • kiara's dream
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • Ayesha Transmigration
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines