Roomousist || •COMPLETE

Roomousist || •COMPLETE

  • WpView
    GELESEN 1,094
  • WpVote
    Stimmen 216
  • WpPart
    Teile 27
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Sa., Juli 4, 2020
"Jangan dibaca jika cerita ini berefek buruk dan tidak memiliki faedah apapun pada diri Anda. Jika Anda memutuskan membacanya, berarti anda siap menerima suasana baru daricerita-cerita lain di luar sana." NufhaJaa From Tsabita Tsana Sampai kapanpun aku telah berjanji, aku akan membenci itu. Walaupun aku ingin berbaik hati dan membuka diri. Namun, apa harus aku ingkari perkataanku sendiri? Aku masih ingta betul perkataannya. "Kan kukabulkan keinginanmu meski papa sakit mendengarnya." Selain pada hal dasar seperti itu, hatiku pun telah terpatri untuk menuntaskan apa yang terlanjur membasahi diri ini **** Ps. Silahkan mampir ke profil aku dan baca aturan yang kubuat untuk kalian yang akan bergabung dan membaca karya-karyaku. Terima kasih :)
Alle Rechte vorbehalten
#344
change
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • My Darkness Girl[TAMAT]
  • Sefrekuensi {ON GOING}
  • Memories Of Us [TAMAT]
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • ALVIN (On Going)
  • ANTAGONIS MOTHER || REVISI
  • Different [END]
  • My Duchess / End
  • kiara's dream

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien