Telusur - pertama

Telusur - pertama

  • WpView
    Reads 4
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 4, 2020
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
Tagsaneh
tenangkan raga berdamai dengan jiwa kita lihat bersama-sama goresan luka Hai , gandi apa kabarmu ?,kebaikan apa yang kau lakukan hari ini gandi ?,apakah kau sudah menemukan apa yang kau cari ?,masih ada satu hal yang belum kau dapatkan jawabannya ? apa itu gandi ? gandi selalu mencari apa saja yang bisa ia cari entah itu fenomena,kebiasaan pola perilaku manusia dan bahkan mencari jati dirinya. Gandi senang sekali mereka-reka apapun setiap kejadian, dia selalu menghubungkannya dengan data-data yang sudah tersimpan rapi dalam kepalanya, setidaknya dengan pola perilaku atau fenomena yang terjadi . Gandi bisa memperkirakan setidaknya 1 hari lebih cepat dari apa yang dipikirkan oleh manusia pada umumnya. Satu hal yang tak bisa gandi perkirakan dalam hidupnya. apakah itu ? Selengkapnya ...... ada di Telusur bagian pertama.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • The Bridge Between Souls
  • Annalise and The Underworld [Ending]
  • A Symphony of life
  • ANOI 1894 - The Disastrous Ritual
  • Meneroka Jiwa 2
  • AKHIR DARI NYAMAN
  • Archetypal [Terbit]

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines