Hujan dan Luka

Hujan dan Luka

  • WpView
    Reads 1,018
  • WpVote
    Votes 102
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 29, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Kisah remaja yang dibumbui dengan beberapa pepatah dan hal lain yang berbau tentang Jawa. Sehingga membuat anda mulai mengerti pesan moral dan suatu kisah serta legenda Jawa yang sebenarnya. Hujan dan Luka hadir untuk anda, dengan nuansa Jogjakarta. Mohon dimaafkan atas kesalahan kata. Selamat membaca... "Aku nggak butuh dikasihani." "Stop pura-pura peduli. Manusia gak tau diri kayak kalian nggak akan pernah mengerti." "KENAPA??!! KENAPA LO MILIH PERGI SEDANGKAN KEBAHAGIAAN LO UDAH DIDEPAN MATA?!!" "Akan ku ceritakan kepada anakku kelak, betapa hebatnya sang pemilik kebahagiaan yang memilih menyerah dengan keadaan."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINDY : Sebelum Aku Pergi
  • [☑️] Love with Innocent Girl
  • Penuh Luka (On Going)
  • Transmigrasi Of Ketos [BL]
  • Cinta yang Tabu
  • welcome to the month march
  • OSIS OR OH SHIT?!
  • DIMAS DAN SANG PRABU (BXB)

"Apa yang sanggup memisahkan dua hati yang saling mencinta? Katakan padaku, Cindy." Suara Rayven terdengar serak, seolah setiap katanya membawa luka yang tak bisa disembuhkan. Tatapan matanya merintih, memohon jawaban dari gadis yang berdiri di hadapannya-jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan hatinya dari kehancuran. Cindy menatap tanah sejenak, bibirnya bergetar. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata Rayven dengan pandangan yang dipenuhi air mata dan rasa sesal. Dengan suara yang lirih, sehalus angin yang menyesap di antara rinai hujan, ia menjawab: "Waktu, Rayven... dan tempat yang tak lagi sama." Air matanya jatuh, tanpa bisa dicegah, menyatu dengan tetes hujan yang membasahi dunia di sekitar mereka. Hujan turun seolah ikut menangis, mengiringi jiwa yang saling mencinta namun tak bisa bersama. Rayven menggeleng pelan, hatinya mencabik dari dalam. Ia meraih tangan Cindy, memohon dengan sisa harapan yang ia miliki, Namun Cindy menarik tangannya, perlahan tapi pasti, lalu melangkah mundur. "Kalau waktu memisahkan kita... maka aku akan menunggu selamanya!" Rayven berseru, suaranya nyaris patah. "Cindy, tolong... beri aku alasan! Kenapa kamu harus pergi? Kenapa bukan kita yang melawan dunia ini bersama?" Cindy tersenyum dalam tangisnya. "Karena tidak semua cinta ditakdirkan untuk dimenangkan, Rayven..." Kemudian ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan Rayven di tengah hujan yang kini terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines