AMANTES
  • WpView
    Reads 702
  • WpVote
    Votes 45
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 23, 2020
Eros Aether Gasendra Laki-laki yang mempunyai daya tarik membuat banyak gadis jatuh cinta padanya, hanya dengan sekali tatapan mata. Seperti namanya 'Eros' Dewa Cinta, dia tidak pernah gagal membuat seluruh gadis bertekuk lutut di hadapannya. Dari banyak gadis yang di temuinya, mengapa dia harus merasakan jatuh cinta kepada gadis yang mempunyai penyakit "Philophobia" atau ketakutan untuk jatuh cinta dan untuk di cintai. •Plagiat jauh jauh ya! Start: 3 May 2020
All Rights Reserved
#83
eros
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • Orbit Azero
  • Hiraeth'n
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • Nervous (Completed)
  • Ares✔ [Proses Revisi]
  • Aderaga [ON GOING]
  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • AFIKA [ END✔ ]
  • Bad boy & Fake bad girl✅

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines