Story cover for Monokrom Senja by tubagussastra
Monokrom Senja
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 8
  • WpView
    Reads 37
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 8
Ongoing, First published May 03, 2020
"Perjalanan kita melawan waktu memang tidak akan pernah usai, kita akan selalu menemukan ketidakpastian dengan benturan perasaan. Kita percaya jika waktu mempertemukan karena sebab mendewasakan jiwa yang kekanak-kanakan. Apa sebab kita tidak boleh menjadi anak-anak? Menjadi dewasa tidak menjadikan kita semakin bijak. Jika dewasa begitu harus kita paksakan, belajarlah untuk tidak melukai. Kalaupun sulit, setidaknya kau bisa memilih lebih adil dengan perasaanmu."

"Terima kasih sudah membuatku menjadi penikmat senja, senja mengajarkanku arti dari sebuah janji. Senja tak pernah pergi untuk tak kembali, karenanya aku begitu setia menunggunya meski terasa begitu lambat waktu berlalu. Tak apa, karena kuyakin. Senja pasti kembali.."
All Rights Reserved
Sign up to add Monokrom Senja to your library and receive updates
or
#24bookstagram
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 8
Ahira Kala cover
Antara Jarak Dan Waktu cover
FALLING IN LOVE  cover
You're My Heartstrings [SUDAH TERBIT) cover
FAMILY? [END] cover
Kamu Milikku cover
Mas Duda cover
ALEENA'S LIFE cover

Ahira Kala

13 parts Complete

"Ahira". Entah apa artinya, tapi selama ini hanya itulah yang menguatkanku agar terus hidup. Suatu hari manusia lain harus mengenal dan kemudian mengenangku, aku tak ingin pergi tanpa meninggalkan kenangan sedikitpun -setidaknya untuk seseorang. Seseorang yang entah sudah dilahirkan atau belum. Seseorang yang sudah digariskan bintang untuk kemudian berjabat tangan denganku. Iya... tidak saat ini, tapi pasti... suatu saat nanti. Mungkin, saat ini di ujung langit sana, ada banyak manusia yang tengah menatap langit yang sama dengan penuh harap dan kegelisahan. Sama sepertiku, aku tahu aku tak sendiri malam ini. Bahkan, sesekali lolongan anjing liar memecah keheningan, seakan mereka sedang berkelana dalam ceritaku yang tak pernah ada ujungnya, atau mungkin mereka hanya sedang lapar.