VIXI
  • WpView
    Reads 371
  • WpVote
    Votes 41
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 14, 2022
"aku yang dulu hidup" secara anagram angka romawi XVII disusun sedemikian rupa menjadi VIXI, menyimbolkan pesan yang ditakuti seantero penduduk Italia. Lalu orang-orang mulai menghapus angka 17 dari nomor kamar hingga kursi pesawat terbang. Hal ini persis pernah terjadi saat dulu-dulu sekali. Ketika orang-orang mengubur bayi perempuan karena dipercaya membawa petaka. Hingga saat ini, secara sadar maupun tak sadar, perempuan menjalani rangkaian perjalanan hidup dengan sekelumit aturan yang belum (ataupun tidak) menjadikan mereka manusia seutuhnya. Di pelbagai sudut bumi, Anda mungkin mendengar kisah istri durhaka, anak yang tidak penurut, pekerja seks, perawan tua yang malang, ataupun sosok ibu dengan segala beban yang ia pikul. Buku ini mengajak Anda berkenalan dengan 17 perempuan dengan 17 dunia berbeda. Namun satu yang pasti, mereka sama-sama hidup dalam satu ketidakpastian bernama nasib. Perempuan lahir dengan kutukan kuno Italia, mereka hidup namun tak pernah benar-benar hidup. Mereka dijanjikan merdeka dan diingkari pula dengan kemerdekaan yang lainnya.
All Rights Reserved
#2
feminism
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pincang Sebelah
  • TERIMAKASIH SUDAH BERTAHAN -  REUPLOAD
  • RIMBA MERUN
  • BALGIOT
  • Dunia Milik Sang Posesif [END]
  • AKU DAN KAMU CINTA ♡
  • transmigrasi antagonis boy (Completed)
  • Rayyan Etherium Fractus

"Semua orang punya harapan, rutinitas, dan hasrat. Dan pengkhianatan adalah realisasi untuk tetap bertahan." Bardi terbangun setelah kamarnya dipenuhi suara seorang wanita. Bukan wanita penggoda, namun istrinya yang sedang marah. Mengambil koper dan memutuskan pergi. Dia hanya meninggalkan beberapa kata, "Jaga anakmu, dasar pengangguran!" Bardi, seorang pengangguran setelah di-PHK oleh perusahaan tempat ia bekerja. Menyisakan seorang anak perempuan. Sebagai seorang ayah, telah menjadi tugasnya untuk memenuhi kebutuhan sang anak. Ini adalah kisah Bardi, bergelut di jalan yang dianggapnya abstrak hanya untuk memikul tanggung jawab. Written by Sepi Bergumam

More details
WpActionLinkContent Guidelines