"Petrichor, aroma tanah setelah tersiram hujan. Menenangkan. Damai. Itu yang gue pengen dalam hidup. Tapi semesta seakan nggak ngizinin gue buat dapetan hal itu. Semesta berkata lain." -Viola Berlianta.
Tentang perjalanan hidup, cinta, keluarga, sahabat dan kesendirian.
***
Viola Berlianta, gadis datar, cuek, dan super jutek bila dengan orang yang tidak dekat dengannya. Ia tidak menginginkan menjadi dewasa. Menurutnya menjadi dewasa adalah jebakan. Ia ingin menjadi bocah yang hanya mengenal tertawa, bermain main, tanpa memikirkan beban hidup. Viola adalah gadis biasa biasa saja yang kemanapun selalu ditemani sepeda kesayangannya. Gadis berkaca mata yang hobi menggambar sketsa sambil mendengarkan lagu melalui headset itu sangat anti dengan laki laki. Kecuali satu sahabatnya, Rafa Mahendra, bocah laki laki yang memiliki gangguan mental semenjak Papanya meninggal dunia. Viola sangat menyayangi laki laki istimewa itu.
Agan Reynanda, laki laki berandal kaya raya yang kerjaannya cuma bolos, berantem, jadi langganan BK, berurusan sama OSIS bahkan Kepala Sekolah karena ulah dan kenakalannya. Seakan kenakalan adalah sahabatnya. Banyak gadis yang rela melakukan apa saja untuk memikat hati Agan. Tapi laki laki itu tidak peduli dengan mereka. Itu semua berkat ketampanan, tubuh tinggi berisi, dan keunggulan fisik lainnya. Namun dibalik kenakalannya, ia memiliki sisi positif. Walaupun hidup dengan segala kemewahan, Agan tidak pernah menyombongkan diri. Selain itu, satu hal yang tidak banyak diketahui orang orang tentang Agan. Dia adalah relawan di salah satu panti asuhan. Agan sangat menyayangi anak anak kecil. Mengingatkannya pada adik kecil kesayangannya yang telah tenang di surga.
"Kalo gue cinta sama cewek kunti yang gue liat di lapangan malem itu, gimana?"
"Gue nggak akan pernah cinta sama lo, Agan. Nggak akan."
"Oke, kalo gitu gue yang bakalan bikin lo narik ucapan lo barusan." Ucap Agan dengan senyum penuh kemenangan.
All Rights Reserved