MENEPI
  • WpView
    Reads 406
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 22, 2020
WpInfo
Fanfic
Miraculous Ladybug
Aku membenci hujan. Hujan mengalir deras bersama kenangan. Aku memilih berteduh saja darinya. Bukan hanya itu aku juga membenci banyak hal. Keramaian, kebisingan, aku memberi batas gaulku . Jangan tanya kenapa? Saat ini aku memang buta akan rasa. Terlalu kaku untuk bergerak memulai dari langkah mana. Aku sedang tak ingin melukai siapa-siapa dan aku juga bukan orang yang ahli dalam melukai, aku hebat dalam terluka. Jadi menjauhlah jangan menganggu ketentraman dan kedamaian wilayah rasaku. Biarkan aku menepi untuk sejenak saja, yah beri waktu sejenak saja!! Hidupku rumit bukan? Santai, Aku masih kuat untuk berpura-pura kuat! *Kuat menghadapi adik yang kurang ajar seperti Nero. *Cukup kuat bertahan dengan abang yang banyak cingcong dan usil layaknya bang Niko. *Masih dikuatkan oleh Tuhan diri ini meladeni Gayen yang banyak mau nya plus suka merepotkan sekali. * Dikuat-kuatin menghadapi orang baru si pengganggu antah brantah itu. Males banget nyebutin nama dia, inisial aja deh : M Terakhir , masih kuat menerima masa lalu akan hati tersayat pilu dan rasa yang dipaksa lumpuh. Terimakasih masa lalu Aku Nattah Aulia. Bagitulah gadis itu menuai resah di tinta hitamnya diatas buku diary bernuansa pink color yang menjadi teman berbagi nya setiap hari. Dan sedikit menepi lebih baik! Baik untuk kesehatan jantungnya. 💐
All Rights Reserved
#506
coolboy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ANNOYING KOMANDAN {END} ✓
  • Rasya Vs Rasyid [END]
  • Breathe
  • BUNGKAM
  • ALEYA~~
  • ANTARA
  • Dibalik Topeng Kebahagiaan
  • Aku dan Luka [Sudah Terbit]

"Aiptu Nachita Yuananda, kamu tanggung jawab saya. Mulai sekarang dan seterusnya." "Sampai ketemu besok atau di waktu tertentu. Kapanpun itu, saya akan selalu menunggu saat kita ketemu lagi dengan euforia yang sama." Kisah cinta sepasang Abdi negara yang bertemu secara sengaja. Namun, jatuh cinta tanpa di sengaja hingga menumbuhkan perasaan yang mengekal dalam jiwa. Mengikat hati tanpa perlu kata, hanya melalui tatap mata. "Maaf, karena sudah lancang menjatuhkan hati pada Komandan." "Siap, Komandan!" "Saya siap menemani Komandan di setiap langkah yang Komandan ambil. Saya siap berada di sisi Komandan, dan menjadi rumah buat Komandan." "Saya gak bisa janjiin apa apa, Ndan. Saya juga bukan manusia sempurna, tapi kalau mau bahagia sama sama. Saya bersedia." Romansa sepasang anak manusia yang membuat cemburu setiap mata yang memandang mereka, bahkan tuhan pun cemburu melihat besarnya cinta itu. "Aku ingin jadi seperti senja, Mas. Yang kepergiannya selalu membekas di hari orang-orang. Yang keindahan nya selalu abadi dalam benak setiap makhluk, meskipun kehadiran singkat." "Untuk mencintai Senja, Kamu tidak perlu menjadi bumi." "Kamu hanya perlu menjadi Mentari, karena Mentari ikut kemanapun Senja pergi. Bahkan tengelam bersama Senja." Senja, Bumi dan Mentari. Itulah mereka. Sebuah perumpamaan yang sederhana, namun rumit jika di jabarkan dengan kata-kata. Hingga menghabiskan jutaan kata pun tak mampu menggambarkan betapa indahnya tiga hal tersebut. "Tetap bersinar ya, Mentari ku...." "Kamu beneran pergi, Na?" Keindahan cinta dari kedua insan itu menyemai kecemburuan dari Sang Maha cinta. Sehingga dia merenggut salah satu dari mereka dan menjadikan dia yang tersisa, mengambil peran bumi yang gelap gulita karena ditinggal senja. "Mentari mu ini, akan menyusul Senja-nya segera." "Dengan ini tugas kamu saya nyatakan selesai, Iptu Nachita Yuananda. Beristirahat dengan tenang, senjaku. Namamu akan harum di kenang seluruh negeri."

More details
WpActionLinkContent Guidelines