my annoying  wife

my annoying wife

  • WpView
    MGA BUMASA 23
  • WpVote
    Mga Boto 0
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Sun, May 3, 2020
"Saya akan lamar kamu hari ini seperti yang kamu inginkan" sanggahnya setelah mendengarkan percakapan aku dengan mba ara. " Jangan kaya kepaksa gitu pak. Gak baik nentuin suatu hal yang dilandaskan keterpaksaan loh" "Siapa yang bilang saya kepaksa lamar kamu" kebawa emosi dianya. "Saya, kan tadi saya yang bilang bapak gimana sih, gak denger?" kan aku ikut emosi "Gak, saya ngga kepaksa lamar kamu itu maunya saya koh bunda saya juga mau kamu jadi mantunya kan." malah bawa bawa bunda lagi kan gak bisa nolak sayanya. "Beneran loh pak gak kepaksa. Okeh harini bapak lamar saya secara resmi loh pak." "Iya, nanti habis isya saya datang bersama keluarga saya buat lamar kamu." " Okeh, saya tunggu lamaran bapak" ☺😊
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Tingkat Tiga
  • Indah Di Awal Kisah
  • Naughty Nanny
  • Mentari Tanpa Sinar
  • Gue Jadi Istri Muda ?
  • My Handsome Devil
  • Bad Papa
  • Dosgans
  • Viona Allexa Miller
  • See You Again (On Going)

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman