my annoying  wife

my annoying wife

  • WpView
    Membaca 24
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Min, Mei 3, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
"Saya akan lamar kamu hari ini seperti yang kamu inginkan" sanggahnya setelah mendengarkan percakapan aku dengan mba ara. " Jangan kaya kepaksa gitu pak. Gak baik nentuin suatu hal yang dilandaskan keterpaksaan loh" "Siapa yang bilang saya kepaksa lamar kamu" kebawa emosi dianya. "Saya, kan tadi saya yang bilang bapak gimana sih, gak denger?" kan aku ikut emosi "Gak, saya ngga kepaksa lamar kamu itu maunya saya koh bunda saya juga mau kamu jadi mantunya kan." malah bawa bawa bunda lagi kan gak bisa nolak sayanya. "Beneran loh pak gak kepaksa. Okeh harini bapak lamar saya secara resmi loh pak." "Iya, nanti habis isya saya datang bersama keluarga saya buat lamar kamu." " Okeh, saya tunggu lamaran bapak" ☺😊
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Ain't Your Daddy (COMPLETED)
  • Mentari Tanpa Sinar
  • My Handsome Devil
  • More Than Senior
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • Adik Kelas Rese!
  • Bad Papa
  • THE CLIMB [Completed]
  • Dosgans

Pernikahan Jamila Istari (30) dan Nadiem Arif Prakoso (38) sudah tiga tahun kandas, huru-hara dipicu oleh ketidak puasan Ami yang merasa kurang segala-galanya. Di zaman ini, di ekonomi yang begini, dia harus bertahan dengan Nadiem yang luntang-lantung setelah bisnisnya gulung tikar? Yang benar saja! Ami itu high maintenance! Belum lagi dia juga ikut menanggung hutang ibunya. Plus, ibu dan kakak Nadiem yang pelit pula. Di bayangan Ami, terbebasnya ia dari Nadiem bisa membuat kehidupannya lebih baik. Kenapa tidak? Toh, Ami punya gelar, kompeten, supel, cantik, ada pula harta gono-gini yang harus Nadiem berikan untuknya. Sudah sangat amat cukup, Ami bisa bekerja lagi dan menikmati uangnya seorang diri. Tapi nyatanya, tidak. Tiada beda, justru lebih berat, lebih parah, lebih menjengkelkan. Ami pusing, mual, mumet, apalagi setiap kali putrinya, Kanaya yang masih berusia tujuh tahun itu merengek-rengek ingin bertemu si Papi. "Mami ayooooooo! Kita cari Papi, aku mau Papi, kangen Papi, mau ketemu Papiiiiii!" "Papi kamu udah punya anak baru." "Haaaa! Mamiiiiii!" Rasanya Ami ingin menjerit dan bergulung-gulung saja!

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan