Ark and His Pier

Ark and His Pier

  • WpView
    Reads 482
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 29, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
"Hei," "Aku mau tolongin dia! Nggak, dia nggak boleh meninggal! Aku mau ketemu dia sekali lagi, aku belum tau namanya siapa? Belum tau dia tinggal dimana? Aku belum tau semuanya. Aku mau main sama dia!" "NGGAK. NGGAK. AKU MAU DISINI, AKU MAU DISINI SAMPE DIA KESINI LAGI BUAT NEMUIN AKU! AKU HARUS MASTIIN KALO DIA MASIH HIDUP! TINGGALIN AKU AJA!" "BAHTERAAAAAA!" Semakin langkahnya mendekat ke arah Bahtera hingga berpapasan, suara itu semakin terdengar sangat kencang sampai-sampai terasa sangat nyata. Dermaga nyaris spontan menutup telinganya. Suara itu bukan hanya semakin kencang, tapi juga terngiang-ngiang karena diulang berkali-kali dan sangat cepat. Kemudian di penghujung kalimat, juga ada teriakan nama Bahtera yang meraung dan melengking. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa maksudnya ini? Jarak mereka mulai sama-sama menjauh, dan Dermaga menghentikan langkahnya kemudian menoleh sedikit ke arah Bahtera yang berjalan sudah jauh di belakangnya. Kenapa waktu papasan sama Si Ketos suaranya makin kenceng, dan makin cepat? Terus, kenapa dia manggil nama belakang Si Ketos juga?: batin Dermaga sesaat langkahnya mulai menjauh dari Bahtera, dahinya mengerut dalam. Bahtera menghentikan fokusnya dari buku gambar kecil yang sedang dia lihat-lihat sedari tadi berjalan, pandangannya menerawang kosong jalanan teras koridor. Kemudian sedikit menolehkan kepalanya ke belakang. Kayak ada yang manggil.: Batinnya. . . . Copyrights©May2020 by pixiedust©193trianna
All Rights Reserved
#19
penyelidikan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sailing With You [END]
  • Archibald: The Star, The Fire & The Shadow
  • Cinta Beda Alam (End)
  • UNIT KILLER SAVAGE (END)
  • DAKSA [END]
  • Rekal Rara [END]
  • Why Us? (Terbit)
  • Destined for me 2

Perjalanan kisah cinta Gara seorang naval architect muda dengan Arunika mahasiswi magang yang bekerja membantunya. Siapa sangka pertemuan takdir itu mengungkap kisah masa lalu yang dipenuhi kesalahpahaman. Akankah bahtera Gara dan Arunika bisa terus berlayar di antara badai yang menerjang ? ..... Ceklek Sontak Gara menoleh. Dengan panik dia berlari namun naas kakinya tergelincir cairan licin di lantai. Tubuh Gara oleng tak seimbang namun dia berhasil menstabilkannya dengan gerakan reflek yang ia lakukan. Arun berkedip-kedip melihat pemandangan di depannya. Dia memang tak asing melihat cowok bertelanjang dada. Ardi sepupunya selalu begitu saat di rumah ketika gerah. Begitupun teman-temannya saat di kelas sehabis pelajaran olah raga. Tapi yang ia lihat kini Gara. Suaminya. Yang masih untouchable. "Mas Gara ngapain nari sambil handukan gitu ?"ceplos Arun menyembunyikan debaran di balik ekspresi heran. "Hah ?! Aku nggak lagi nari, Arun. Ini hampir jatoh" What the hell !!! nari ? Arun ngira gue nari ?! Masa gue tadi gemulai ? Padahal kehormatannya sebagai suami hampir di ujung tanduk begitu. Untung saja dirinya tidak jatuh tengkurap di hadapan Arun. Syukurlah hari ini masih bisa jaim (jaga image) "Oh.." Arun tak ambil pusing dan berjalan mengambil alat pelnya. ..... "Nama urus belakanganlah. Cari ukurannya dulu. Dihitung dirancang dulu. Baru dikasih nama." "No !!! Nggak bisa gituu. Bagi gue kapal itu udah kaya anak. Jadi ya kasih nama dulu baru dirawat dan dibesarkan sepenuh hati" terang Shofi. "Ya kan sebelum anak lahir lo harus bikin dulu. Ngidam dulu. Lahiran dulu. Baru dikasih nama" "Hmmmm....begitu ya" Shofi manggut-manggut membenarkan perkataan Arun. "Eiiiits....bentar-bentar. Bikin dulu ?! Ngidam dulu ?!" Ulang Shofi. "Tumben lo ikutan gak jelas nanggepin metafora gue" heran Shofi. Arun tersadar. Mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap lurus Shofi di depannya. "Iya juga." jawabnya singkat dan meneruskan kembali bacaannya dengan cuek.

More details
WpActionLinkContent Guidelines