Anathema

Anathema

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 5, 2020
Mengklaim, menghakimi dan mengutuk. Itulah yang mereka lakukan pada dunia yang terbuat atas kesalahan mereka sendiri. Tapi seolah menutup mata atas tingkah laku mereka, mereka pun menjatuhkan semua kesalahan mereka pada makhluk yang bahkan tak tahu apa-apa. Namun seolah semua itu tak puas bagi mereka, makhluk-makluk tak berdosa itu pun ditindas oleh kemarahan mereka tanpa sebab yang jelas. Namun dilain sisi, mereka memuliakan sebuah kaum, menganggungkan kaum tersebut sebagai kaum yang mulia, dan tak hentinya menarik daya kaum tersebut untuk menjadi seperti mereka. Hingga tanpa mereka sadari, kaum itu akan menjadi sahabat dekat bagi para makhluk yang mereka cela.
All Rights Reserved
#19
khayalan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MISTERI PETUALANGAN DALAM LABIRIN ILUSI
  • Faith in You : The Seeker
  • (end) After Rebirth I Became Spoiled
  • Misteri di Balik Kabut Gunung Salak
  • Mimpi Yang Hina
  • Behind the Chill of the Night Wind (HIATUS)
  • TITIK SILANG (TAMAT)
  • Syal Merah

Pernahkah Anda merasa hidup di tengah pesta topeng yang tak berkesudahan, di mana tawa bisa tiba-tiba menjelma menjadi tangis pilu, dan kemewahan menyembunyikan kemunafikan yang menggerogoti nurani? Selamat datang di dunia yang dipenuhi "Warna-warni Kepalsuan," sebuah labirin realitas yang absurd, disaksikan melalui mata seorang tokoh yang terperangkap di dalamnya. Bayangkan seorang komedian melontarkan lelucon getir yang justru mengalirkan air mata, seorang pengemis lusuh memanggul kekayaan yang kontras dengan penampilannya, dan para penguasa negeri berdebat tentang kemiskinan dari balik dinding hotel bintang lima yang gemerlap. Inilah ironi yang menjadi santapan sehari-hari di labirin ini. Namun, kepalsuan tak hanya meracuni panggung sosial. Bahkan cinta yang seharusnya suci pun ikut terdistorsi, bertransformasi menjadi tragedi prematur akibat idealisme yang membutakan dan nafsu yang membutakan. Di tengah pusaran kejanggalan ini, tokoh utama kita merasakan mual yang kian mencekik, sebuah reaksi naluriah terhadap kepura-puraan yang merajalela. Terjebak dalam labirin tanpa ujung, satu pertanyaan terus menghantuinya: di manakah gerbang menuju keaslian di tengah gemerlap kepalsuan ini? Bersiaplah untuk menyelami sebuah narasi yang akan mengusik keyakinan Anda tentang realitas, mempertanyakan setiap senyum dan air mata yang Anda lihat, dan membawa Anda dalam pencarian kebenaran yang tersembunyi di balik indahnya kebohongan. Apakah tokoh kita akan berhasil menembus "warna-warni kepalsuan" yang mengitarinya, ataukah ia akan selamanya menjadi bagian dari sandiwara tanpa akhir ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines