Siklus Rasa

Siklus Rasa

  • WpView
    Reads 87
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2020
Yang awalnya cerita hidup hanya soal pertemanan, kesenangan, jalan-jalan. Lalu kemudian tiba di siklus rasa. Why? Jawabannya karena itu sudah bagian dari hukum kehidupan. Tidak bisa dihindari ataupun ditentukan. Ini tentangmu. Untukmu. Yang pernah atau bahkan sedang berada di siklus ini. . . . Penasaran? Mampir yuk:)
All Rights Reserved
#139
jatuhhati
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • When his name is
  • Look at Me, MAMA! ✔
  • Yang Tak Pernah Ada
  • ARDIRA [SELESAI]
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Setia Di Hati (Selesai)
  • Happy Ending Doesn't Exist
  • True Love?

sinopsis: "Aku milikmu, ingat itu." Aku bertemu dengannya-dan saat menatap matanya, semua luka lama terasa seperti baru kemarin. Kami bukan orang asing. Kami adalah dua jiwa yang pernah saling memiliki, lalu membuang ribuan kenangan dan mimpi seakan semuanya tak berarti. His name is Benedictus. "Dia adalah masa laluku... dan juga yang terakhir bagiku," ujar Angelz saat bicara pada Chris-teman yang selama ini diam-diam mencintainya dari kejauhan. Chris tahu, cintanya mungkin tak akan pernah terbalas. Bukan karena dia tak cukup baik, tapi karena bayangan masa lalu Angelz terlalu kuat untuk dilupakan. Lalu, ketika masa lalu dan masa kini bertabrakan, akankah Angelz tetap memilih luka yang familiar... atau cinta yang diam-diam tumbuh dengan tulus? ________________________________________ prolog: Aku lupa kapan terakhir kali memeluknya-mungkin saat langit masih tahu cara bersinar di mataku, sebelum semua berubah jadi abu-abu. Dia berdiri di depan ku sekarang, seperti mimpi buruk yang kembali mencari tempat tinggal. Tapi bukan karena aku takut... aku hanya belum siap mengingat betapa dalamnya luka yang pernah kami ciptakan bersama. Namanya Benedictus. Dan sekali lagi, dunia menuntunku ke arah yang selama ini ku coba lupakan. "Angelz," suaranya tak berubah. Aku menunduk. Karena sekuat apa pun aku menyangkal... sebagian dari diriku masih miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines