Story cover for Mikaila by justmind_
Mikaila
  • WpView
    LECTURAS 19
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 2
  • WpView
    LECTURAS 19
  • WpVote
    Votos 1
  • WpPart
    Partes 2
Continúa, Has publicado may 05, 2020
Seperti kata orang tua, apa yang kita mulai harus bisa kita akhiri apapun caranya. Kenapa gue harus bingung gimana caranya buat nyelesain masalah ini sedangkan semua sudah sangat jelas, Rafan gak memiliki rasa yang sama seperti gue.
"Maksud Lo apa nerima permintaan itu?" teriakan Rafan menggema dikelas yang awalnya sunyi itu.
Di depan semua anak kelas  11 IPA 1 gue sedang jadi perhatian karena didatangi jagoan SMA Dharma Wijaya. Seorang Rafan Anggara Putra berhasil membuat semua orang memandang aneh kearah mereka berdua.
"Kalau gue bilang gue butuh semuanya, apa Lo mau bilang kalau gue manfaatin lo?" balas gue dengan acuh sekaligus buang muka kearah pintu.
"Gue gak pernah nyangka Lo lakuin hal serendah ini cuma buat kepentingan lo sendiri, emang gak salah orang-orang ngelakuin lo gitu." 

Perkataan Rafan mengusik gue yang sejak tadi tidak fokus ke dia dan menahan perih dalam diri gue dengan menatap Rafan tajam.

Tanpa menoleh lagi Rafan meninggalkan kelas sambil tak lupa menggebrak pintu yang tadinya tertutup.


copyright by @justmind_
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Mikaila a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#3mikaila
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
RE-SILIENCE de blackcurrantbery
45 partes Continúa
Ia kira hidupnya akan berjalan mulus saja tanpa ada gangguan yang membuat jalan hidupnya berkerikil, ternyata kehidupan di Sekolah Menengah Atasnya, di warnai kegaduhan yang membuat Ibunya sering marah tidak jelas kepadanya Ia Kaven, anak dari Ibu Adinda, yang mana wanita itu sebentar lagi akan menikah dengan pria yang katanya teman SMA nya, ya... kalau itu membuatnya senang apa boleh buat, lagian Ibunya sudah lama menjanda setelah di tinggal nikah sama Ayah Tapi, tapi nih ya Ibu mau nikah sama pria yang anaknya musuh bebuyutannya, anak SMA TUNAS BANGSA yang sering kali ngajak ribut ia dan teman teman SMA MERAH PUTIH, ngotak nggak?, nggak cok!. Masa iya, tiba tiba sodaraan sama anak yang buat jalan hidupnya bergelombang . Hidupnya ini normal saja, mau ada masalah atau tidak hidupnya ini ya begitu saja, Ayah punya restoran besar dan penghasilan cukup untuk membiayai dirinya yang tak banyak pengeluaran ini, tapi, ada satu hal yang seru dalam hidupnya, yaitu menganggu anak SMA MERAH PUTIH, walau sering di sebut SMA tetanggaan nyatanya tidak setenggaan itu, jarak SMA kami cukup berjauhan, hanya saja ada jalan tikus yang membuat SMA kami berdekatan. Ia Ryanza, anak bapak Rafa yang terlihat sudah uring uringan melihat teman temannya tebar keromantisan di depan Ayahnya yang sudah lama menduda karena di tinggal istri meninggal Ia mah iya iya aja pas Ayah tanya dia mau nikah lagi, terserah dia mah, asal jangan buat dirinya terlibat banget, tapi, ia baru tahu kalau wanita yang bakal di nikahin Ayah itu Ibu dari anak curut dari SMA MERAH PUTIH yang sering natangin dirinya baku hantam. Mood nya hancur gitu aja, maksud Ayahnya apa?, apa Ayahnya tidak bisa memilih wanita lain?, aagh~ buat hatinya membakar saja . Tapi bukan itu masalahnya, masa lalu menghantui masa sekarang tidaklah baik, obsesi yang tidak masuk akal membuat kehidupan pecah begitu saja " Lo yang buat gue kayak gini Ven, kalau gue nggak bisa dekat sama lo,lebih baik lo terus sendiri " " Maaf "
Forever Friends ( End ) de lilialestari9
11 partes Concluida
Clara minum teh manis hangat yang tadi pagi dia siapkan dalam termos kecil kesayangannya. Menghirupnya secara perlahan untuk merasakan aroma teh melati yang harum berbalur sedikit rasa manis. Karena Clara tidak terlalu suka rasa teh yang terlalu manis. Cukup senyum manisnya Gibran cowok tercintanya saja yang Clara sukai. Pagi ini Gibran belum memberinya kabar , terakhir sore kemarin Gibran mengirim pesan kepada Clara di obrolan pribadi hanya menanyakan Clara ada dimana , apakah sudah sampai dirumah dan sudah makan siang. ----- Clara langsung bangkit dan menempatkan termosnya diatas meja lalu keluar kelas untuk mulai menyambut kedatangan teman-teman kecilnya didepan pintu kelas. "Ibu guru ... aku udah berani sendiri dong." " Liat deh , mamaku anterin aku sampai pintu pagar aja ." kata Sena dengan bangganya. "Oiya ya ... mama Sena cuma anterin sampai pintu pagar." "Alhamdulillah ya Sena berhasil pagi ini." lanjut Clara sambil melangkah maju menyambut Sena dan berjongkok untuk menyamakan posisinya dengan tinggi badan Sena. ----- "Ibu guruuuu.... ada ular !" teriak Sena "Ada ular ... Awas teman-teman hati-hati , kita lapor polisi bu guru ." ucap Raya dengan suara cemprengnya sibuk berteriak-teriak sehingga memancing teman-temannya yang perempuan untuk ikut berteriak-teriak heboh. "Bu guru ... kenapa cacingnya gak dibunuh aja bu." "Kan cacingnya udah gangguin kita tadi." "Iya bu guru ... cacingnya pasti gak mandi sama sikat gigi deh." tambah Hanin dengan suara cemprengnya menimpali ucapan Nilam ----- #Proses revisi per Bab# #Mohon maaf bila tidak nyaman#
Quizás también te guste
Slide 1 of 9
HIGH SCHOOL ( END ). cover
RE-SILIENCE cover
Forever Friends ( End ) cover
TRANSMIGRASI BAKA!! (HIATUS)  cover
Im not alone cover
TUBUH GADIS NERD [END] cover
Transmigrated as twins cover
ALGARA & ALTARA [End]✓ cover
Bad and Good cover

HIGH SCHOOL ( END ).

22 partes Concluida

Hay!!! Namaku Kamila, lengkapnya Kamila Anastasya Wijaya. Aku lahir di Kota Jakarta,kota metropolitan.Aku hidup dengan keluarga yang sederhana, semuanya serba berkekurangan. Namun kami mencoba untuk tetap mensyukurinya. Ayahku bernama Fiandani Purnama Wijaya,dan kami sering memanggil dia dengan sebutan papa Pian.Namun orang-orang sering memanggilnya bapak Fian. Ibuku bernama Modesta Pertiwi, namun kami sering memanggilnya mama Modesta orang-orang pun sering memanggil ibuku seperti itu. Aku juga memiliki 2 o rang saudara dan saudari kandung, yaitu seorang kakak perempuan bernama Amelia Claudianti Wijaya yang biasa dipanggil Kaka Amel dan adik laki-lakiku bernama Armando Julio Wijaya. Aku sangat bahagia memiliki mereka. Aku bersekolah di SMA Merah Putih, setelah aku lulus dari SMP Pelita Harapan. "Eh,,eh,, loe ngapain,,, awas ya kalo loe macam-macam" aku menjadi sangat ketakutan sembari melangkah mundur. "Udah diam ajah" ketusnya sembari terus membuka kancing kemejanya dan perlahan-lahan berjalan mendekatiku, sehingga aku tak bisa kemana-mana karena tubuhku telah bersandar pada sebuat tembok gerbang sekolah. Aku pun tak mampu berbuat apa-apa. "Eh loe mau ngapain,,, ehh jangan macam-macam ya,, gue teriak ni" ketusku dengan suara yang agak keras sembari menunjuk-nunjuknya dengan mata melotot dan wajah penuh kegelisahan.