Kemarau Itu Sudah Pergi

Kemarau Itu Sudah Pergi

  • WpView
    Reads 75
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 18, 2020
Aku mengenal seorang lelaki yang meski aku mengutuk kemarau yang kering dan panjang, namun ia menyadarkanku betapa kemarau yang kami punya cerah dan hangat. Lalu, ketika aku mulai mencintai kemarauku, ia justru menghilang. Dan kemudian aku tersadar bahwa kemarau kami telah usai. Kemarauku sudah pergi.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • Dibalik Tawa
  • Meski Saling Berdekatan
  • Cinta & Rahasia
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Sahabat jadi Cinta
  • Kita Sembuh Bareng?
  • Aku, Kamu & Jarak
  • my story
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines