Dunia Peri Ku

Dunia Peri Ku

  • WpView
    Reads 143
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Mar 18, 2021
Louis mendarat perlahan ke arah peri perempuan, di injaknya kerikil bercampur tanah subur dibawah, membuat Louis sedikit kehilangan keseimbangan karena kerikil yang sedikit besar di kaki kanannya. Menghirup oksigen sejenak, Louis mengelus dadanya dan mengucap beruntung dia tidak jatuh. Mata hijaunya terpejam sejenak kemudian mencari lagi sang sahabat. "Zee! Kamu dimana Zee?! Ayolah kita kembali, ini sudah terlalu lama!" Teriak Louis mendongak ke atas, Zee tidak ada di atasnya, lalu kemana sahabatnya itu pergi? Alis Louis berkerut, menajamkan matanya mencari ke arah bunga bunga lebih dalam, siapa tahu Zee bersembunyi di antara bunga bunga itu. Tapi hasilnya tetap nihil, Zee tidak ada di sana. . . . . . . . . .
All Rights Reserved
#535
bestfreind
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Vericha Aflyn ✔️
  • WHERE'S MY MOTHER? - MARKSELLE & CHENNING
  • Jodoh Gue!!! [END]
  • Terraciel World: Nyanyian Darah Tertua
  • Be with you
  • Stay (Away)
  • My Bromance [18+] End
  • DERSIK
  • BULAN [END]
  • ANANTA [COMPLETED]

#Judul awal 180 degree.# Vericha Aflyn. Perempuan yang akan menginjak usia 17 tahun, dalam beberapa bulan lagi. Dia bukan perempuan yang haus akan popularitas, bukan pula perempuan polos. Dia hanya perempuan biasa-biasa saja, dengan kisah yang tak biasa. Dia hanya perempuan biasa, yang mendambakan bahagia. Orang baru dan cerita baru, menghiasi hari-harinya. Tuduhan, siksaan, dan cibiran ia dapatkan. Mampu kah dia bertahan? Atau harus menyerah dengan keadaan? ---------- "Jangan pergi! Ini perintah, bukan permintaan!" Icha kembali menutup matanya, membuat air mata yang tertahan di pelupuk matanya terjatuh. Dadanya semakin terasa sesak, mungkin kah dia bisa bertahan? "H-hanya sebentar!" pinta Icha dengan lemah. "Lo harus janji, bakalan bangun lagi!" Setelah itu Icha hanya mengangguk, lalu bersandar di dada Isan. "Lo y-yang harus bangunin gue." Isan mengelus rambut Icha lembut, hati Isan terasa di cubit, saat dia dapat mendengar suara nafas Icha yang teratur. Isan meraih tangan kanan Icha, dan langsung menempelkan di dadanya. Mencoba memberi tahu Icha, tentang keadaan hatinya. Tak berselang lama, Isan di buat terkejut. Debaran jantungnya terasa berhenti, dengan nafas yang tercekat. Tangan Icha jatuh begitu saja di pahanya, nafasnya pun terputus-putus. Isan menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia dekap erat tubuh Icha, menahannya agar tak pergi. Matanya menatap hamparan bintang, dan indahnya bulan. Memohon keajaiban, dan meminta kesempatan. Isan berteriak lantang, menyerukan nama Icha. Memanggilnya untuk kembali. "ICHA!!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines