Dia satu hati

Dia satu hati

  • WpView
    Reads 62
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 13, 2020
Karena sebuah kecelakaan, Dira yang terbilang cukup naïf, terpaksa menggantikan posisi saudara kembarnya untuk menikah dengan Fabian. Pria dingin dan juga kasar, yang selalu menyudutkan Dira atas kesalahan Dara (saudara kembar Dira), yang sebenarnya tidak pernah Dira ketahui sebelumnya. Menjalani pernikahan sebagaimana adanya, meski dia tidak tahu, apakah dia bisa bertahan dengan pria itu atau tidak.
All Rights Reserved
#12
diam
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku Padamu Ya Ukhti (Selesai)
  • Love Is Never Die
  • My Disaster Boyfriend
  • TOUCHED (End)
  • Takdir di Antara Kita (Tamat)
  • The Choice
  • Hi, My Husband!
  • Kita Dalam Tumpukan Cerita
  • AKU ISTRINYA TAPI BUKAN PILIHANNYA

"Memalukan." ujar Azzam sinis, tatapannya datar. Asya tersentak, senyumnya memudar, ada apalagi dengan suaminya. Kenapa sikapnya selalu berubah. Apa katanya tadi 'memalukan' apa maksudnya. "Ma-maksud mas apa?" tanya Asya bingung. "Jangan pura-pura tidak tahu." sinis Azzam. Asya mengerutkan keningnya. "Asya gak ngerti, maksudnya apa. Asya buat salah lagi?" jawabnya lirih. "Kenapa kamu itu gak bisa sadar diri." ujar Azzam dengan nada dingin. Asya menunduk dalam, "Kalo mas gak bilang Asya juga gak tahu." jawab Asya, suaranya mulai bergetar. Azzam mengusap wajahnya kasar, segera ia beristigfar. Takut syetan menguasai dirinya ketika marah. Dan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. "Tadi kamu pulang sama siapa?" tanya Azzam, matanya menyorot tajam. Asya yang melihat itu pun mulai takut. Ia lupa memberi tahu Azzam tentang itu, dan ... darimana Azzam tahu hal ini. Astagfirullah kenapa ia selalu saja ceroboh. "Gak bisa jawab, kan." sindir Azzam. Ia berjalan ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras. Asya segera tersadar dan menyusul langkah Azzam. "Mas Asya bisa jelasin." pekik Asya dari luar kamar, ia menggedor-gedor pintu namun tak digubris oleh Azzam. "Mas Azzam salah paham, Asya bisa jelasin. Itu semua gak kayak yang mas pikirin." ucap Asya dari luar. Hening. "Mas," panggil Asya mulai pasrah. Sepertinya Azzam benar-benar marah, ini semua karena kecerobohannya sendiri. Menyalahkan Fahmi juga bukan pembenaran, karena ia membantunya untuk menjalankan amanah. Cover by Nurhanifah

More details
WpActionLinkContent Guidelines