Rihana Aginta

Rihana Aginta

  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Sebuah hidup yang singkat namun meninggalkan perjalanan yang panjang. Seakan-akan mati adalah pilihan terbaik. Rihana tidak mengerti mengapa hidup nya menjadi seperti ini. Hingga Yaksa hadir untuk memberitahunya bahwa banyak sekali hal menarik didunia ini selain mati. Namun Rihana berfikir bagaimana jika Yaksa meninggalkannya dan berhenti memberitahu bahwa dunia bisa menjadi tempat terindah semasa hidupnya? Bagaimana hidup Rihana tanpa Yaksa?
All Rights Reserved
#23
rintiksedu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear of Natasya
  • La Casa del Alma
  • ALEYA~~
  • DESA PUNYA CERITA
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • change the life of the evil princess [End]
  • When an Antagonist becomes Heroine
  • KEKASIH KECILKU [TAHAP REVISI]
  • This City
  • [END] When the Stars are Tired

"Aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi karena aku tak ingin kalian melihat aku runtuh." - Natasya Kirana Maharani Natasya Kirana Maharani, seorang gadis 14 tahun yang tampak ceria di luar, menyimpan lautan luka di dalam dirinya. Ia hidup di antara ketiadaan kasih sayang keluarga, dikhianati oleh satu-satunya cinta yang ia percayai, dan terjebak dalam gelapnya lorong kesehatan mental yang terus menghantuinya. Meski dunia seperti runtuh, Natasya masih bisa tersenyum. Ia mendirikan komunitas kecil di sekolah bernama Langit yang Menangis Diam-Diam, tempat di mana anak-anak lain yang juga terluka bisa menuliskan isi hati mereka tanpa takut dihakimi. Komunitas itu menjadi suara bagi mereka yang sunyi, menjadi bahu bagi mereka yang diam-diam ingin menyerah. Namun, tidak semua orang menyukai kejujuran. Komunitas itu mendapat serangan, hujatan, bahkan dihancurkan. Sahabat menjauh, pacar memilih diam, dan luka-luka lama kembali terbuka. Natasya terus bertahan. Ia terus menulis. Terus meyakinkan orang lain bahwa mereka layak hidup, meski hatinya sendiri sudah lama remuk. Hingga pada suatu malam, ketika tak ada lagi pelukan yang cukup hangat, ketika suara-suara di kepalanya terlalu bising, dan ketika senyumnya tak lagi mampu menahan air mata... Natasya memutuskan untuk meninggalkan dunia yang tak pernah benar-benar menerima keberadaannya. Ia meninggalkan surat terakhir di ruang komunitas yang dulu ia bangun: "Aku lelah menjadi kuat. Tapi aku ingin kalian tahu: kalian layak hidup, bahkan saat aku memilih berhenti." ---

More details
WpActionLinkContent Guidelines