Kucing Pembawa Cinta

Kucing Pembawa Cinta

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 9, 2020
Gino seorang anak lelaki pecinta kucing memiliki tetangga baru bernama Adena perempuan yang juga pecinta kucing namun Adena dilarang memelihara kucing oleh orang tuanya. Suatu saat Kucing orange Gino yang bernama Naruto sedang diberi makan oleh Adena di depan rumahnya, Gino pun menghampiri kucingnya dan berkenalan dengan Adena. Adena bilang bahwa dia menyukai kucing namun tidak boleh memeliharanya oleh karenanya dia meminta Gino untuk mengzinkannya bermain dengan Naruto. Karena sering bermain kucing bersama akhirnya di hati Gino tumbuh benih cinta. Apakah Adena juga mempunyai perasaan demikian kepada Gino atau dia hanya suka Naruto si kucing saja?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • Ananda dan Andini
  • Benci Jadi Cinta [On Going]
  • Awas Jatuh Cinta
  • Mine [TAMAT]
  • Cita Cinta Arin
  • Curse Magic[END]
  • Kating OR Komting || END

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines