Taaruf Kedua (Selesai)

Taaruf Kedua (Selesai)

  • WpView
    Reads 248
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Sat, May 9, 2020
Sebuah Cinta Luar Biasa dari Sang Maha Cinta Akuu pernah lancang memberi kesenangan pada iblis dan syaitan, merusak masa depan ,merusakk epercayaan orangtuaku. Tapi Allah tetap memberiku cinta luar biasa, sebuah rencana mahabijaksana sang pemilik cinta dan kebahagiaanku sebagai imbalannya. Terimakasih wahai pemilik segala cinta yang memastikan tak ada satu jiwapun yang kekuranga dan yang membuka pintu maaf untuk pendosa. .
All Rights Reserved
#194
kekinian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Untuk Laut
  • TAKDIR RAHASIA
  • Ikhwan [SELESAI]
  • Ketulusan Cinta Aisyah - [Telah Terbit]
  • Trust
  • Ta'aruf, Yuk! [SUDAH TERBIT]
  • Rania: Melebur Trauma, Menyambut Bahagia
  • Skripsi Pengantar Cinta  [TERBIT] ✓
  • My Gus
  • Mahasiswi Calon Istriku (End)

Maura Elvaretta Zahira, gadis ceria berambut panjang yang selalu tampak bersinar di mata orang-orang. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh-kehilangan ayah yang ia cintai dan ibunya yang menikah kembali. Meski rapuh di dalam, Maura tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan pekerja keras. Ia ceroboh, sering gegabah, dan tak jarang memainkan rasa percaya dirinya untuk menutupi ketakutan yang tak pernah ia akui. Lalu ada Mahzan Rafiq Al Muaffaq-siswa kelas dua SMA yang dikenal pendiam, dan tenang. Putra pemilik pesantren dan seorang dokter ini tumbuh dalam nilai-nilai agama yang kuat. Ia merupakan murid kebanggaan guru. Mereka dipertemukan di SMA. Dalam riuhnya masa remaja, Maura jatuh hati lebih dulu. Ia tak menunggu waktu terlalu lama untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Mahzan menolak-bukan karena tak ada rasa, melainkan karena ia tahu, cinta tak cukup hanya dengan saling suka. "Aku bukan tak ingin, Maura. Tapi kita punya Tuhan yang mengatur waktu. Dan saat ini, belum waktunya kita jadi satu."

More details
WpActionLinkContent Guidelines