Lost in Bandung

Lost in Bandung

  • WpView
    Reads 553
  • WpVote
    Votes 30
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 10, 2020
"Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum.." Salah satu kutipan untuk sebuah kota di Jawa Barat.. Bandung.. Banyak manusia bilang, Bandung adalah kota yang romantis.. Banyak tempat yang indah bagi pasangan muda-mudi untuk berbagi kasih.. Memang benar adanya, banyak pasangan yang terbuai asmara di sekelilingku.. Bercumbu mesra bagaikan dunia hanya milik mereka yang berpasangan.. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang aku rasakan sekarang.. Hanya duduk sendirian disebuah bangku taman.. Meratapi apa yang baru saja terjadi ku alami.. Terkhianati oleh cinta pertama ku..
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aku, Kau dan Jogja yang Ditinggalkan
  • Bandungku Kini Berbeda [LEE HAECHAN]
  • LANGIT, BINTANG, DAN ALAM SEMESTA[TERBIT✅]
  • Istiqlal & Katedral [LuRah]
  • Podcast Bian [COMPLETE]
  • Bandung dan Semua Yang Tertinggal [TAMAT]
  • Arkan & Bandung
  • BANDUNG DAN KITA
  • Alhamdulillah Berjodoh

Aku mencintai kota ini sama besarnya dengan rasa cinta kepadamu. Tidak ada alasan membenci, sebagaimana juga tidak akan benci terhadapmu. Kenapa? Ada begitu banyak alasan dan aku tidak akan mampu menyebutkannya di saat hati dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan. Kota ini, yang bagimu memberi banyak hal telah menularkan padaku untuk turut mencintainya. Binar matamu ketika menceritakan impian-impian itu. Masa depan yang penuh ketenangan, dengan sebuah pondok sederhana di pesisir Parangtritis hingga senja menyapa. Tidak ada lagi yang kamu inginkan. Mungkin Tuhan menghukumku karena rasa cinta yang teramat besar padamu, hingga dengan satu pukulan menghancurkan segalanya. Debur ombak menyapa, menyeretku ke dalam arus, membawaku sampai benar-benar tenggelam. Kau berkhianat, dan aku harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Entah bagaimana lagi kupertahankan perasaan? Apa harus berpura-pura demi impian di depan mata, atau memilih terluka dengan konsekuensi membenci segalanya yang berhubungan denganmu. Termasuk kota ini. Sebuah kotak berwarna abu-abu dengan pita merah muda di pangkuanku menjadi sia-sia. Aku membencimu, membenci kota ini, dan membenci impian kita. Tidak akan ada lagi ucapan selamat datang untukku di kota ini. Bus telah membawaku semakin jauh. Selamat tinggal.

More details
WpActionLinkContent Guidelines