Sinopsis :
Amanda (26 tahun), Ali (21 tahun), Andini (21 tahun), terjebak dalam suatu hubungan yg sulit ditebak oleh mereka sendiri.
Amanda, yg terpaksa menyeret Ali kedalam konflik cintanya. Tak perduli walau nyatanya Ali sudah memiliki tambatan hati yg dipacarinya sejak SMA, yaitu Andini.
...
"Ini mantan kamu?" Ali menarik selembar foto berukuran dompet dari tangan Amanda.
Amanda mengangguk kecil, "Ehm, 8 tahun lalu," ujarnya. "Ah.. 8 tahun lalu, itu berarti kamu masih bocah ingusan yang baru masuk SMP," Kata Amanda sambil terkekeh kecil. "Masih culun, baju dimasukin, celana kebesaran, masih nentengin botol air minum sama kotak bekal,"
Ali berdecak sebal, "Dan 8 tahun kemudian, wanita tua ini tergila-gila pada bocah ingusan itu, ironi sekali,"
...
"Tante cuma khawatir kalau Ali gak bisa mengimbangi kamu," Ujar Wanita paruh baya yg duduk dihadapan Amanda. Dengan senyumnya yg tegas, "Kamu pintar, cantik, tante suka sama kamu, tapi tetap saja, Ali gak cocok sama kamu, Tante ngerasa kamu gak pantes momong Ali, karna Ali lelaki, sudah kodratnya kalau lelaki memimpin," Ujarnya sopan.
Sambil menyeduh kopinya, Amanda tersenyum. "Tante tau gak, kenapa saya bisa sesukses ini?" Tanyanya, membuat wanita dihadapannya menunggu. "Karna saya ambisius, dan optimis, apapun yg saya inginkan, saya harus dapat," Ujarnya santai masih tetap dengan senyumnya. "Ah... dan juga anak tante tampan, saya suka hal yang menyegarkan, itu saja..!"
Teman-teman bilang, kisah cinta gue itu pasaran. Naksir tapi cuma bisa memendam (kalo lo bilang gue pengecut, itu artinya bukan hanya gue aja yang lo judge tapi juga jutaan cewek yang naksir diam-diam).
Sebenarnya sih itu udah kelewat lumrah. Yang langka terjadi di realita adalah.... punya sahabat berbeda jenis (cowok cewek maksudnya) dan parahnya lo naksir dia!
Yupss. Itu yang sedang gue alami. Percayalah, rasanya berjuta kali lebih nggak enak dibanding lo naksir cowok terkeren di sekolah. Seakan ada sesuatu yang salah dan nggak pada tempatnya. Wajar sih, karena memang nggak seharusnya ada rasa "cinta" di tengah persahabatan.
Tapi mau gimana lagi? Beruntung buat gue kalo perasaan itu melekat di kedua pihak. Nah, kalo nggak?
Kan sakit.
***
Peniu.