Story cover for The Guy by storylie_yu
The Guy
  • WpView
    Reads 1,471
  • WpVote
    Votes 149
  • WpPart
    Parts 20
  • WpView
    Reads 1,471
  • WpVote
    Votes 149
  • WpPart
    Parts 20
Ongoing, First published May 09, 2020
Sinopsis :

Amanda (26 tahun), Ali (21 tahun), Andini (21 tahun), terjebak dalam suatu hubungan yg sulit ditebak oleh mereka sendiri.

Amanda, yg terpaksa menyeret Ali kedalam konflik cintanya. Tak perduli walau nyatanya Ali sudah memiliki tambatan hati yg dipacarinya sejak SMA, yaitu Andini.

...

"Ini mantan kamu?" Ali menarik selembar foto berukuran dompet dari tangan Amanda.

Amanda mengangguk kecil, "Ehm, 8 tahun lalu," ujarnya. "Ah.. 8 tahun lalu, itu berarti kamu masih bocah ingusan yang baru masuk SMP," Kata Amanda sambil terkekeh kecil. "Masih culun, baju dimasukin, celana kebesaran, masih nentengin botol air minum sama kotak bekal,"

Ali berdecak sebal, "Dan 8 tahun kemudian, wanita tua ini tergila-gila pada bocah ingusan itu, ironi sekali,"

...

"Tante cuma khawatir kalau Ali gak bisa mengimbangi kamu," Ujar Wanita paruh baya yg duduk dihadapan Amanda. Dengan senyumnya yg tegas, "Kamu pintar, cantik, tante suka sama kamu, tapi tetap saja, Ali gak cocok sama kamu, Tante ngerasa kamu gak pantes momong Ali, karna Ali lelaki, sudah kodratnya kalau lelaki memimpin," Ujarnya sopan.

Sambil menyeduh kopinya, Amanda tersenyum. "Tante tau gak, kenapa saya bisa sesukses ini?" Tanyanya, membuat wanita dihadapannya menunggu. "Karna saya ambisius, dan optimis, apapun yg saya inginkan, saya harus dapat," Ujarnya santai masih tetap dengan senyumnya. "Ah... dan juga anak tante tampan, saya suka hal yang menyegarkan, itu saja..!"
All Rights Reserved
Sign up to add The Guy to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Amor Almira by ZuwitaArcen
35 parts Complete
Dalam hidup, kita bertemu dengan banyak orang. Tapi hanya sedikit yang mampu mengguncang dunia kita, mengubah arah hidup, dan meninggalkan jejak di hati. Ini adalah kisah tentang dua dunia yang bertabrakan-tentang gadis baik yang jatuh cinta pada laki-laki yang katanya nggak pantas dicintai. Almira Anjani Wirasti, gadis ceria dengan hati selembut senja, tak pernah menyangka bahwa pertemuan singkat di bawah pohon rindang akan mengubah hidupnya. Ia hanya ingin menolong. Tapi dari sentuhan pertamanya, ia malah menemukan luka yang lebih dalam dari sekadar goresan di kulit-luka yang tersembunyi di balik dinginnya tatapan seorang Amor Antariksa Setiawan. Amor bukan tipe pria yang mudah didekati. Kasar, tertutup, dan penuh misteri. Tapi siapa sangka, di balik sikap cueknya, ada hati yang lelah... dan mungkin, hanya butuh seseorang yang cukup nekat untuk mengetuk pintunya. > "Lo nggak takut deketin orang kayak gue?" tanya Amor suatu sore, suaranya serak, tatapannya kosong menatap langit. Almira menghela napas pelan, menatap lukanya, lalu menjawab tenang, "Yang gue takutin bukan lo... tapi kehilangan kesempatan buat bikin lo bahagia." Amor terdiam. Tak ada yang pernah bilang hal seperti itu padanya. > "Gue bukan orang baik," gumamnya. "Gue cuma... rusak." "Nggak ada orang yang terlalu rusak buat dicintai," bisik Almira, menatap matanya yang penuh luka. "Lo cuma belum pernah dikasih alasan buat percaya." Dan sejak hari itu, perlahan-tanpa mereka sadari-dunia yang kelabu mulai berubah warna. Ini bukan kisah cinta biasa. Ini tentang keberanian mencintai seseorang yang hancur. Tentang bagaimana cinta bisa mengubah arah hidup, menyembuhkan luka lama, dan menciptakan harapan baru. Karena kadang... yang kita butuhkan bukan orang sempurna. Tapi seseorang yang bersedia tetap tinggal, bahkan ketika kita merasa tidak pantas dicintai.
Rindu Senin Pagi by Rizardila
25 parts Complete
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.
You may also like
Slide 1 of 10
It HURTS cover
Mirea Revenge cover
CRUSH | SO JUNGHWAN ✅ cover
Penantian cover
Yadong Jktae18+ || Selesai cover
Be Yours cover
Unpredictable Love cover
Arsyilazka cover
Amor Almira cover
Rindu Senin Pagi cover

It HURTS

34 parts Complete

Teman-teman bilang, kisah cinta gue itu pasaran. Naksir tapi cuma bisa memendam (kalo lo bilang gue pengecut, itu artinya bukan hanya gue aja yang lo judge tapi juga jutaan cewek yang naksir diam-diam). Sebenarnya sih itu udah kelewat lumrah. Yang langka terjadi di realita adalah.... punya sahabat berbeda jenis (cowok cewek maksudnya) dan parahnya lo naksir dia! Yupss. Itu yang sedang gue alami. Percayalah, rasanya berjuta kali lebih nggak enak dibanding lo naksir cowok terkeren di sekolah. Seakan ada sesuatu yang salah dan nggak pada tempatnya. Wajar sih, karena memang nggak seharusnya ada rasa "cinta" di tengah persahabatan. Tapi mau gimana lagi? Beruntung buat gue kalo perasaan itu melekat di kedua pihak. Nah, kalo nggak? Kan sakit. *** Peniu.