Gadis Kesayangan

Gadis Kesayangan

  • WpView
    LECTURES 4
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., mai 10, 2020
Devan prolog Karna hari ini libur sekolah, seperti biasa Devan jogging keliling komplek rumah nya. Lalu, setelah itu Devan pergi ke caffe milik Ayah nya yang sekarang sudah di kelola Devan sendiri. Karena Papa nya Devan ingin anak nya memiliki penghasilan sendiri walaupun masih dengan bantuan Papa nya. Kini Devan duduk di salah satu kursi pengunjung dan nggak sengaja Devan melihat wanita yang sempat memaki nya kemaren di gerbang sekolah, yang Devan sendiri juga tidak tau apa maksud dari perkataan wanita itu. Diam-diam dia melihatnya dibalik buku yang dia baca, tapi wanita yang di lihatnya itu tidak sendiri an, ada wanita juga yang bersama nya. mereka berdua terlihat mirip seperti Adik Kakak. Saat Devan mencoba melihatnya lagi ternyata salah satu dari wanita itu melihat Devan. Devan salah tingkah, dia bingung harus gimana, seperti maling mangga yang ketauhan oleh pemilik nya, akhirnya Devan pergi ke Ruangan milik nya. "aduh Devan, bego banget sih gue sampe katauhan gitu kan jadi malu gue..." omel Devan sepanjang jalan menuju ruangan nya.
Tous Droits Réservés
#374
humoris
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Misi Kalisa (End)
  • Pemilik Hati Ketos Dingin (Tamat)
  • I'm Not A Villainess
  • DEVAN & ADARA
  • LANGIT & BULAN
  • My Annoying Man
  • VerLanO (END)
  • Famous Couple
  • Persona
  • Sweetheart  End_

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu