Teriakan Diam

Teriakan Diam

  • WpView
    Reads 75
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Fri, May 22, 2020
Asevya Tisha, perempuan itu merasakan bahwa mata memang jendela hati, Namun bibir dan lidah jago mendustai naluri. Telinga untuk mendengar, Entah senyum yang menjadi pertanda kabar atau sedih bertahan tegar. Jika hidup karena lahir, Itulah sebab mengapa ada takdir. Yang bisa berubah dan bisa menetap. Mencakup semua arah, menjalani semua tahap dan meyakini setulus hati. Bukan hidup jika tak bertemu masalah. Serumit apapun, hidup bukan tentang mengakhiri segalanya, Tetapi hidup berusaha untuk menjalani. Tak penting mendengar ucapan mereka. Berhenti lah berpura-pura. Angsur lah bahagia sesungguhnya. Jangan bertahan untuk menyakitkan perasaan. Lebih baik berdiri sendiri berusaha maju, Bukan mementingkan rasa yang belum bisa pudar itu. Jangan biarkan dalam semua raut bahagia pada wajah, hati banyak menyimpan luka.
All Rights Reserved
#637
teman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • KETUK(ER)
  • SENANDIKA (Zeedel)
  • Auristela
  • You (J & M)
  • THE UNYIELDING  [END]
  • ASTER [SELESAI)
  • Cinta Sang Prajurit (END)
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • ALONE
KETUK(ER)

[UPDATE: MONDAY] Ada yang bilang kalau hidup itu perkara memahat. Membentuk diri menjadi apa yang diinginkan. Dalam hal ini, pahat hati yang paling krusial. Kenapa? Karena semua dirasa pakai hati. Bahkan terkadang, berpikir juga pakai hati. Jadi, untuk kamu yang dulu dengan apik memahat hati hingga kini bentuknya terlihat begitu sempurna. Terima kasih. Kamu hebat sudah bisa sampai ke titik ini. Untuk kamu yang hingga saat ini masih bertahan dan berjuang tanpa lelah untuk memahat hati hingga bentuknya hampir terlihat sempurna. Semangat. Kamu sudah sejauh ini. Jadi, jangan menyerah. Untuk kamu yang baru saja mulai memahat hati, siapkan alat berjuang dengan apik. Karena memahat hati bukan perkara mudah. Bukan perkara sepele yang hanya butuh ucapan manis, tetapi juga aksi. Jangan sampai salah membaca. Ini kisah tentang pahat hati, bukan patah hati. Awas, jangan ketuk(er)! Namun, kisah ini tidak menjanjikan happy ending. Pun, tidak menjanjikan sad ending. Kenapa? karena itu tergantung pada mata siapa yang melihat. Kebahagian dan kesedihan itu sama dengan cantik dan tampan; relatif. Ini semua tergantung pada siapa yang menjadi pemahat dan hati siapa yang dipahat. Juga, alat apa yang digunakan. Kira-kira, komposisi bagaimana yang harus digunakan Sang Ketuk(er) agar bisa membentuk pahatan sempurna? Start: 14 Februari 2022

More details
WpActionLinkContent Guidelines