Naungan Langit Negeri Hitler [On Going]

Naungan Langit Negeri Hitler [On Going]

  • WpView
    LECTURAS 99,838
  • WpVote
    Votos 10,886
  • WpPart
    Partes 47
WpMetadataReadContinúa7h 12m
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, ago 7, 2023
Balqist Fahira, perempuan berkerudung coklat itu tengah berdiri terpaku. Agak jauh dari tempatnya berdiri, seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan snelli putih khas dokter, tengah berjongkok dihadapan gadis kecil. Laki-laki itu menjulurkan tangannya yang memegang sebuah lolipop warna-warni berusaha mengambil perhatian gadis kecil itu. Sienna Ratu Naufal, putri kecil Fahira, ragu-ragu mengambil uluran lolipop. Pemuda itu tersenyum merekah. Mengajak gadis kecil berusia empat tahun itu untuk berjabat tangan. Sienna menurut, lama kelamaan wajah mungilnya menggariskan sebuah senyum yang Fahira tahu senyum itu biasanya hanya diberikan padanya. Fahira luar biasa terkejut ketika laki-laki itu membuka maskernya, menampilkan wajah yang sungguh Fahira kenal. Namun, sekitar 8 tahun tak pernah bersua. Dia yang pernah menyapa lembut relung hati Fahira kini berada didepannya. Pakaiannya telah berubah. Bukan lagi jas almamater kuning kebanggaan kampus. Tapi jas lab putih dengan kemeja yang menjadi dalamannya. Rambut yang disisir rapi. Serta sepatu mengkilat. Ia tersenyum hingga lutut Fahira terasa lemas luar biasa. Dia yang ia rindukan, telah kembali. Mengobati luka atas kepergian belahan jiwanya dua tahun yang lalu. [Follow aku dulu ya. Tambahkan cerita ini ke library kamu. Terima kasih❤] Akan Revisi nanti ketika selesai♡
Todos los derechos reservados
#7
islami
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • My Best Mama
  • KAU UNTUKKU [Sudah Terbit]
  • Bumi
  • Han's: His Aching Allure
  • Nyangga
  • DIA CINTA YANG LUAR BIASA
  • diet pepsi

Hujan jatuh di kota itu seperti benang tipis dari langit, memantulkan lampu neon yang berkedip lelah. Di persimpangan jalan, seorang lelaki berdiri dengan payung miring. Matanya mengikuti sosok perempuan yang berjalan cepat, menunduk, seolah menghindari dunia. Ia tak mengenalnya. Tapi jantungnya memukul seperti lonceng tua yang pernah ia dengar di tempat yang tak pernah ada di peta. Pasar malam di pusat kota menyala dengan warna-warna hangat, tapi suara penjualnya lenyap. Lampion bergoyang tanpa angin. Dan di sela-sela kerumunan yang tiba-tiba membeku, mata perempuan itu-mata yang sama seperti di hutan yang dulu ia tinggalkan-menatapnya. Di ujung sebuah lorong, bioskop tua berdiri sendirian. Dindingnya berlumut, pintunya berdebu, tapi dari celahnya keluar denyut cahaya yang tidak berasal dari proyektor. Pintu itu tidak ada kemarin. Dan besok, mungkin akan hilang lagi. Di rel kereta yang berkarat, cahaya asing turun seperti aurora yang tersesat. Bayangan-bayangan panjang menari di aspal, memanggil nama yang sudah lama tak diucapkan. Di sebuah gang buntu, sebuah toko buku yang tak pernah buka di siang hari menyimpan peta kota yang tidak pernah dicetak. Dan di bawah tanah, pasar gelap menjual kompas yang selalu menunjuk ke arah yang salah. Langit retak di atas jembatan. Retakannya halus, seperti kaca yang dicakar dari sisi lain. Di baliknya, bukan hanya bintang, tapi hutan dengan akar yang menjuntai, menggapai kota seperti jemari yang lapar. Di tengah semua itu, ia berdiri. Ia-yang dulu meninggalkan segalanya di hutan tak bernama-kini kembali, bukan sebagai Alea, tapi sebagai seseorang yang dipanggil Katiya. Ia tidak ingat siapa dirinya. Tidak tahu mengapa setiap langkahnya membuat kota ini makin kehilangan bentuk. Dan di ujung segalanya, ada pintu. Pintu yang tak bernama. Pintu yang hanya terbuka sekali-dan menuntut satu jiwa untuk menutupnya. ---

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido