Dua gadis kembar yang terpisahkan sejak bayi, kembali bertemu ketika mereka sedang duduk di bangku SMA. Namun, pertemuan mereka tidak membuat mereka berdua sadar, jika sebenarnya mereka itu saudara kembar yang terpisahkan. Mereka hanya tahu, bahwa di dunia ini juga ada banyak orang yang mirip walau tidak sedarah.
Disha Claralisya, dia bayi yang diculik dan dibesarkan oleh wanita paruh baya yang baik hati. Bu Aminah. Ia bahkan menganggap Disha sebagai anak kandungnya, dan ia bahkan tak pernah mengatakan kebenaran jika sebenarnya Disha bukan anak kandungnya. Disha memiliki sifat tomboi, pemarah, kasar, cuek, dan dingin terhadap orang-orang yang tak ia kenali.
Kayra Eliaxandra, dia adik dari Disha yang sekarang tinggal sebagai anak tunggal dari keluarga Axandra. Rodi dan Fatwa sebagai orang tua kandungnya tidak pernah mengatakan pada Kayra jika ia punya seorang kembaran. Mereka bilang anak mereka yang mereka pikir sudah tiada, tetap masih ada dalam diri Kayra. Kayra memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Disha, ia gadis lemah, yang terlalu baik pada orang-orang, mudah dimanfaatkan, dan sering dibully.
Sebelum mereka bertemu, keanehan selalu terjadi pada diri Disha dan Kayra. Mereka berdua memiliki batin yang erat, hingga jika salah satunya kesakitan, maka yang lain ikut merasakannya.
Arkan yang selalu mengejar cinta Disha juga mengatakan Disha sedikit aneh. Namun, Disha selalu menyangkal itu, dan ia pikir itu hanya sebuah kebetulan. Tetapi, Disha semakin heran saat seorang siswi pembully, Tara, tidak pernah kapok membully dirinya.
Akankah Disha dan Kayra sadar, jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang selama ini terpisahkan?
*
Update kapan aja
DON'T COPY, IT'S A SIN
Thanks to the readers🍃
#liveinadream
/Kembar\
"Apa yang bisa dibanggakan darimu?"
Sebuah hubungan yang kompleks antara seorang ayah dan anak perempuannya. Ayah tersebut tidak pernah menunjukkan kasih sayang dan penerimaan terhadap anaknya, bahkan menganggapnya sebagai beban keluarga.
***
Diasha hanya ingin satu hal, dicintai oleh ayahnya sendiri. Namun kasih sayang itu tak pernah datang, bahkan seolah tak pernah diharapkan.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh dingin dan diam, mencoba menjadi anak baik agar dilihat, agar dianggap tapi hasilnya selalu sama, hampa.
Meski begitu, Diasha tak pernah benar-benar bisa membenci ayahnya. Di hatinya, pria itu tetap sosok penting yang tak tergantikan. Sayangnya, apakah ayahnya berpikir hal yang sama?
Ketika cinta yang seharusnya melindungi justru melukai, Diasha dihadapkan pada pertanyaan paling pahit dalam hidupnya:
Apa gunanya hidup... jika rasanya seperti mati
Attention: Cerita ini mengandung tema yang sensitif dan dapat memicu emosi yang kuat pada pembaca, terutama bagi mereka yang pernah mengalami pengalaman serupa. Mohon untuk tidak terlalu terpengaruh oleh cerita ini. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala reaksi emosi yang mungkin timbul, termasuk kebutuhan akan tisu.
•dilarang keras menciplak karya ini•