Story cover for Mati Rasa by irmann_
Mati Rasa
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published May 13, 2020
Aku dahulu selalu bertanya kepada ibu, kenapa harus bunga putih yang selalu ada saat seseorang telah berakhir hidupnya atau sengaja mengakhirinya, tetapi ibu tidak pernah menjawabnya. Mungkin hanya bocah yang bertanya di depan gundukan tanah.

Sekarang aku tahu bagaimana bunga itu membuat orang-orang tenang. Sebab keputusasaan selalu abstrak, selalu mutlak. Namun jika disatukan dengan bunga yang lain, keputusannya akan hilang dan asanya yang tinggal. Seperti kami, bunga-bunga itu wajib dicari, wajib disatukan katanya. Padahal, kami tidak putus asa, kami hanya mati rasa.
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add Mati Rasa to your library and receive updates
or
#650hikmah
Content Guidelines
You may also like
C by IniAku-BukanKamu
27 parts Complete
"Drama banget hidup gue. Bahkan sinetron azab pun tidak semenyedihkan ini, sial." Gadis itu menunduk, melihat ke bawah dengan tatapan kalut. Kemudian ia menatap ke atas langit, hujan, tak ada bintang. Hanya ada langit gelap yang sesekali menjadi begitu terang karena kilatan petir. "Mak, kenapa nggak ajak Clara sekalian, sih?" lirih gadis itu membiarkan air hujan menerpa wajahnya yang penuh luka lebam. Bahkan tetesan air di tangannya berubah menjadi kemerahan, bercampur dengan darah. Ia tak menangis, lebih tepatnya sudah lama ia tidak bisa menangis. Sebelum memutuskan keluar di tengah hujan lebat, ia menikmati kesendirian yang menyakitkan di emperan ruko tak jauh dari jembatan ini. Sendiri yang begitu sakit karena dadanya yang sesak dan tangannya yang tak berhenti mengeluarkan darah yang bersumber dari sayatan yang ia buat sendiri. Ia kembali menundukkan kepala. Memejamkan mata erat, membiarkan rasa sakit fisik dan mentalnya bersatu dengan gumuruh suara petir. Mungkin, ini terkahir kalinya ia menikmati rasa sakit itu. Karena ia memilih untuk, menyerah. "Lo gila?!" Gadis itu membuka kembali matanya, tangannya semakin terasa perih karena terbentur aspal jembatan. Tak lain karena dorongan pemuda yang saat ini menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjap bingung. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. "Lo mau bunuh diri, hah!?" Sentakan pemuda itu membuat dia sadar, ia gagal. Gagal untuk mengakhiri penderitaannya malam ini. Menyadari hal itu membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Entah ia harus bersyukur atau justru menyalahkan pemuda yang saat ini berjongkok di hadapannya. Pemuda yang membuat percobaan bunuh dirinya malam ini gagal total. Jadi ia masih harus melanjutkan hidupnya yang menyedihkan ini?
You may also like
Slide 1 of 9
L.E.L.A.K.I cover
Sunflower cover
Detak Terakhir cover
C cover
Hopeless cover
Hanya karena itu kalian membenciku? [Boboiboy Taufan Sad] |Complete cover
White Rose (Blood) ❇ h.s cover
𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓] cover
Story You and Me cover

L.E.L.A.K.I

28 parts Complete

Aku Bunga. Ketika orang bertanya, aku ini bunga apa, aku hanya bisa diam. Aku tergantung di antara atas dan bawah. Tali ini yang akan memutuskannya. Tali ini adalah lelaki. Mencari esensi kata "lelaki" yang sulit kutemui dari arti kata "hidup". Namun, kutetap mencari. Sampai kapan? Entahlah. Padahal, ia sudah sia-sia. Pencaharian mengajariku untuk mengenal berbagai dalam hidup. Mereka mengajarkanku bahwa hidup itu harus berjuang. Aku benci mereka. Tidak adil. Kenapa manusia "lain" memilikinya? Sedangkan aku? Kutetap mencari. Esensi kedua hal tersebut membuatku bingung dengan berbagai teori dan informasi yang menghiasi otakku. Bagian mana yang harus kupercaya? Bagian mana yang harus kusingkirkan mentah-mentah? Kutetap mencari.