We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Bait Senja

Bait Senja

  • WpView
    Reads 430
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2020
WpInfo
Poetry
Sengaja ku tulis judul bait senja. Sebab didalamnya terdapat untaian kata yang selalu berhubungan dengan senja. Atau aku sedang menikmati senja sewaktu membuat sebuah karya. Menurutku senja itu indah, meski kehadirannya tak bertahan lama. Perpisahan terindah adalah dengan senja. Ia akan menciumku dengan manis lewat rona yang terpancar pada awan. ia akan memeluk hangat siapa saja yang mendekat. Ia pun akan kembali esok hari dengan rona yang sama apakah kau juga menikmati senja? apa yang kau petik darinya? menurutku ia tidak jahat dengan katalog "yang indah tak selalu bertahan lama". Namun yang ku suka darinya adalah ia pergi tapi kembali
All Rights Reserved
#163
harapan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • A Love Lost Beneath the Blue
  • Mengeja Senja
  • best friend and twilight
  • Waktu?
  • Senja di Bandung
  • Setelah Langit Berbisik
  • Rindu yang berjarak
  • Senja dan Langit
  • Senandika : Titik Temu

"Sebenarnya, siapa yang lebih aku butuhkan? Dia yang nyata di hadapanku, atau seseorang di masa lalu yang tak bisa kugenggam kembali?" Pertanyaan itu terus menggantung di udara-seperti kabut pagi yang enggan sirna, menggumpal di antara detak waktu yang tak pernah memberinya jawaban. Himeka Ocean, seorang perempuan yang terperangkap di antara bayang masa lalu dan kenyataan yang tak lagi ia pahami. Ia melangkah, namun hatinya terhenti di satu titik: di antara melupakan, atau terus terjatuh dalam jerat kenangan yang tak mau lepas. Di sisi lain, seorang lelaki, ia menjadi peneduh di bawah badai. Ia tinggal, bukan sehari atau dua, tapi bertahun-tahun. Ia mengusap air mata yang tak selalu terlihat, menjadi saksi luka yang tak pernah sembuh, menjadi penjaga dalam sepi yang tak pernah berakhir. Tapi bagi Himeka, itu belum cukup. Bukan karena ia tak bersyukur, tapi karena ada sesuatu yang terus dicari, terus dirindu-seseorang yang hanya hadir dalam lamunan-lamunan panjang dan sunyi. Malam demi malam, ia menelaah hatinya-seperti membaca buku tua yang penuh debu dan sobekan. Ia mencari, di setiap sudut yang pernah ia tutup rapat. Siapa yang selama ini ia tunggu? Cinta seperti apa yang hatinya dambakan? Apakah akhirnya Himeka Ocean akan menemukannya? Atau justru takdir menuntunnya membuka lembaran baru-dengan tangan gemetar namun tekad yang perlahan terbit dari reruntuhan dirinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines