Diary Sherly : MY LOVELY CAPPUCCINO

Diary Sherly : MY LOVELY CAPPUCCINO

  • WpView
    LECTURAS 176
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 17
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, jul 29, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
Lelaki berambut sebahu itu datang tanpa menyebutkan nama. Dalam takdir sebuah perjumpaan, ia kembali hadir, menunjukkan kepadaku tentang arti kehidupan, kebersamaan dan membolak-balik pemahamanku tentang konsep cinta dan kasih. Seiring keajaiban-keajaiban yang ia suguhkan, kebersamaan kamipun berujung pada kerinduan. Dan oleh satu kegilaan yang pernah kulakukan seumur hidupku, kunyatakan gejolak rasa yang membuncah dalam benakku. Pada akhirnya, ia menegaskan cintanya lewat secangkir cappuccino untukku. "Hati ini... Cappuccino ini... boleh kamu miliki... tanpa syarat..."
Todos los derechos reservados
#78
cappuccino
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • Love Is Coffe Away (Myungnyang/Daengsung)
  • Tulip
  • CAPPUCCINO
  • Langit di Antara Kita
  • Sweet As Cupcakes
  • court-side chemistry (daengsung/myungnyangz)
  • FEARLESS || JAYISA

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido