Sudut Pandang Gila

Sudut Pandang Gila

  • WpView
    LECTURES 620
  • WpVote
    Votes 46
  • WpPart
    Chapitres 14
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., sept. 13, 2020
Sinopsis Mengapa ini bisa terjadi dan mengapa begitu? Kenapa orang-orang minoritas diinjak-injak? Suara terbanyak adalah suara Tuhan? Anda merasa benar, sedangkan orang lain salah, begitu? Soal pendidikan kita? Sesuka hati kita? Keegoan dan nafsu belaka? serta pertanyaan lainnya yang saya tanya pada diri saya yang membawa pada Opini Gila. "Kebanyakan orang hanya mengikuti arus. Mereka melakukan sesuatu karena semua orang melakukannya, mereka menyesuaikan diri, bukan mempertanyakan pendapat yang diterima umum" ........................................................................ -Robert Kiyosaki-
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • LANGITKU BERWARNA KAMU
  • What? i'm a mother!
  • mpreg
  • Quant (On Going)
  • Jangan Pergi [TERBIT]

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu