Menek Blimbing Di Balik Jendela

Menek Blimbing Di Balik Jendela

  • WpView
    Reads 298
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 27, 2020
Beberapa coretan yang diakumulasi selama masa pendemi. Coretan ini berisi puisi, prosa, cerpen dan apapun bentuknya. Meskipun absurd kelihatannya, yang terpenting adalah tulisan ini merupakan narasi yang muncul ke permukaan sesuai dengan kondisi dan perasaan sebagai media untuk menceritakan kisah-kisah oleh penulis. Tulisan dari hati itu unik, kedalaman imajinasi mampu menembus dimensi psikologi. Sebagai sebuah imaji, ia kadang seperti air jatuh mengalir menuju selokan bersama buih sabun yang meletus-letus.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Batas-Batas Eksistensialisme
  • BAPER {SELESAI}
  • Barisan Penyesalan
  • KLINIK PUISI (Semoga Lekas Kambuh)
  • Filosofi Semesta (COMPLETE)
  • Surat Cinta untuk Diriku Sendiri
  • Airilia
  • Aksara Tak Bertuan
  • SajakSesak [Arief Aumar]
  • ALTAR RASA | END ✓ |

Zona tak terbatas seolah memberi ruang untuk kebebasan mengkritisi segala hal, namun sebagian besar dari pikiran itu tidak layak berkeliaran di kepala. Dalam esai ini, saya menghadirkan potret kehidupan di sebuah kota industri yang terpukul hebat oleh pandemi. Cerita dengan momen yang mulai mengalir sejak pertengahan tahun 2020, setiap sudut kota tidak lagi sama, terkekang oleh kebijakan pembatasan yang menjadikan kita asing satu sama lain, kehilangan arah, dan beradaptasi dengan rutinitas yang semakin menyesakkan. Melalui perspektif pribadi, saya mengeksplorasi eksistensi kehidupan yang diwarnai oleh pertemuan singkat dengan orang-orang baru, dialog spontan yang memecah keheningan hiruk pikuk kota, serta momen-momen yang mengungkapkan keunikan setiap individu di antara deru aktivitas tak pernah terduga. Saya menggambarkan suasana kota yang memancarkan kehidupan, menceritakan keberagaman emosi, keinginan, dan impian yang mengalir di tengah kebosanan. Alam selalu punya cara untuk menghapus seluruh keluh kesah. Pantai-pantai dan tempat indah lainnya biasanya bersembunyi di sudut-sudut paling tepi dari kota, atau kadang-kadang mereka hadir di tengah hiruk-pikuk kota yang tidak pernah tidur. Kita hanya perlu kedamaian untuk meredam kebencian yang ada dalam diri. Makna yang mungkin sudah lama terkubur dalam nurani, namun tertutup oleh kekecewaan dan kesedihan yang tak kunjung usai.

More details
WpActionLinkContent Guidelines