Frieden Land

Frieden Land

  • WpView
    Reads 121
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 19, 2025
Di sebuah pulau kecil yang terpencil di luasnya Samudra Hindia menyimpan misteri abadi yang tak terjangkau oleh sembarang umat manusia, di pulau ini memiliki sebuah danau biru yang jernih namun sangat dalam dan tak terkira berapa kedalaman nya. Jauh di dalam terdapat sebuah celah berbentuk goa yang amat sangat panjang yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia yang di sebut Frieden Land atau Tanah Perdamaian, goa itu akan menghubungkan dengan sebuah pulau kecil yang berada di selatan dunia itu. Dunia itu memiliki tiga benua. Benua Merah yang di pimpin oleh Ratu kegelapan bernama Catlen dari kelompok medusa, Benua Putih di pimpin oleh Raja yang bernama Velix dari Kelompok Phoenix. Dan benua biru yang merupakan tempat suci bagi kaum immortal karena merupakan tempat sang penguasa dunia berlambang naga. Ketika sang penguasa menghilang terjadi kekacauan di antara dua benua, dimana Catlen mengumumkan perang ke pada Raja Velix. Dan sebelum peperangan terbesar dunia immortal di mulai Sang Raja meminta putranya untuk mencari keturunan sang penguasa yang di sembunyikan oleh orang tua nya ke dunia manusia. mampukan pangeran dari benua putih menemukan nya? dan apakah peperangan dapat terhindarkan?
All Rights Reserved
#973
petualangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Princess of Perseus
  • A LIFE NOT MEANT TO BE [TERBIT]
  • Sisi Lain Dunia
  • Marera [Istri Putra Mahkota]
  • Vernon Alastair: The Defiant Shield
  • BY HIS OWN DECREE
  • Memory of Heaven
  • The price of a chosen path
  • Reyther Andrusha

Aula Aetherium bergema oleh napas lega, panji-panji tua menggantung seperti saksi bisu di atas sosok berlutut yang namanya telah berlari mendahului kebenaran, dan aku berdiri di antara mereka, menyaksikan para pemegang kuasa dan mereka yang percaya mengukuhkan keyakinan menjadi perayaan, seolah ketakutan dapat diakhiri dengan memenggal seorang manusia. Ketika algojo mengangkat pedangnya dan sebuah suara berbisik, "Dialah yang akan mengakhiri dunia ini," kata-kata itu jatuh ke dadaku bukan sebagai keadilan, melainkan sebagai restu untuk berhenti bertanya. Aku telah membaca lembar demi lembar masa lalu, menautkan jejak yang terserak, mengikuti kisah itu hingga semuanya menunjuk ke titik ini, namun pada saat sorak membumbung dan bilah pedang tertahan di udara, yang kurasakan hanyalah sunyi yang ganjil, kehampaan yang dingin, seakan kebenaran telah melintas pergi sementara kami sibuk menyepakati wujudnya. Lelaki itu tak menyerupai akhir, ia lebih tampak seperti jawaban yang disusun dengan rapi agar tak ada lagi pertanyaan yang perlu diselamatkan, dan ketika kerumunan menuntut darah, aku terlambat menyadari bahwa Aetheria masih runtuh di bawah keyakinan kami sendiri. Sebab apa pun yang benar-benar mematahkan dunia ini tak pernah berlutut di hadapan kami. Ia berdiri tanpa nama di antara sorak-sorai, tenang, tak terlihat, dan menang. Dan baru kelak kami mengerti, hari itu bukanlah awal keselamatan, melainkan saat ketika sesuatu yang jauh lebih sunyi akhirnya dibiarkan bebas.

More details
WpActionLinkContent Guidelines