My ideals as a photographer

My ideals as a photographer

  • WpView
    GELESEN 43
  • WpVote
    Stimmen 6
  • WpPart
    Teile 6
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Mi., Mai 20, 2020
WpInfo
Belletristik
Romantik
Setelah selesai kami berjalan melewati anak tangga. Tinggal belok kanan saja kami sudah sampai di kamar. Saat kami tiba di pintu kamar ada sosok yang berdiri di depan pintu kamar Salsa dan teman-temanya Kami mendekati sosok tersebut, ternyata itu kania dan teman-temanya yang sedang berdiri di sana. "Ada apa kalian kesini?" Ucap Salsa "Lho ini kan kamar kami, apa urusanya sama kalian?" Ujar Alya. Ya dia teman Kania "Apa-apa, gak salah dengar nih gw?" Ucap Lisa "Kuping lo budeg ya? Ini kamar kami, ngerti!" Ucap Alya mengulang pembicaraan nya "Hello...Lo bisa baca gak sih?" Ucap Hana "INI ITU KAMAR KITA KAMAR NO 1997 SEDANGKAN KAMAR KALIAN ITU NO 1996. MAKANYA BACA PAKE MATA!!" Teriak Salsa Kania, Alya, Nadia Pun melihat angka yang tercantum di pintu kamar tersebut. Setelah mereka baca. Ternyata benar ini kamar no 1997 bukan kamar no 1996, dan tentunya ini bukan kamar mereka. "Udah baca belum nih?" Ucap Lisa meledek Kania dan teman-teman nya berlarian menuju kamar mereka. lalu masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamar nya.
Alle Rechte vorbehalten
#776
penulis
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Sayang
  • Persona
  • Kisah Yang Tak Berakhir
  • POLARIS
  • SI TAMPAN AERO
  • RAACA 'the power of takdir Allah '
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • Felicity [On Going]
  • Im Yours.
  • East sky first love
Sayang

TERBIT 📖 - "Siapa yang bernama Sayang di sini?" teriak panitia itu, membuat sebagian orang di sana menahan tawa sekaligus penasaran. "Ayo ngaku aja." Alya mengangkat wajahnya. "Sayang...," panggil cowok itu lagi, membuat Alya melihat ke sekelilingnya. "Nggak usah cari ke sana kemari karena yang namanya Sayang itu kan elo." Alya mengernyit. Geli. Dia menatap cowok itu. Kernyitan di dahinya semakin dalam saat cowok itu melihat ke arahnya sembari tersenyum. "Halo, Sayang?" Cowok itu mengangkat tangannya. "Kenalin, gue Arya." Mulai hari itu, Alya tak tahu bahwa kehadiran Arya ke depannya akan memberi warna dalam hidupnya. Warna-warni. Dan jangan lupakan kelabu. copyright©2019, sirhayani

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien