Terjebak Dalam Cinta

Terjebak Dalam Cinta

  • WpView
    Reads 88
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2020
WpInfo
Fanfic
RWBY
Ini bukan cerita Romeo and Juliet yang terhalang oleh kedua orang tuanya, dan bukan juga cerita Cinderella dan Pangeran yang harus bertemu kembali dengan membawa sepatu kaca dan menikahi nya. Ini adalah kisah seorang gadis yang tertutup serta bersahabat dengan buku dan perpustakaan, sampai lupa dengan dunia nyatanya. Dan tidak sengaja dipertemukan oleh pria yang tidak kalah dinginnya. Apakah takdir mereka yang bisa dapat bersatu dengan sifat yang sama-sama cuek dan dingin. Atau takdir yang harus buat mereka berpisah dengan keadaan?. 🍁🍁🍁🍁🍁 "Seharusnya gue peka untuk gak ngikutin alur Lo sampe sejauh ini. Dan semuanya bikin gue banyak berharap" - Violetta Nadine Van Der Veken "Dan Lo harus tau, gua ngelakuin ini semua demi menyelamatkan orang yang gua sayang, yaitu lo" - Venno Jiaraga Putrabimagantara
All Rights Reserved
#67
vio
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rindu Senin Pagi
  • Restart In Italy
  • 𝐆𝑎𝑟𝑎-𝐆𝑎𝑟𝑎 𝒁𝚊𝚎𝚗𝚊𝐛 (TAMAT)
  • Endless Love [ON GOING]
  • Arranged Marriage gen Z
  • When Mr. Bossy Falling In Love

Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Kisahku, perempuan bodoh yang terpaksa duduk sebangku dengan laki-laki pintar yang menyebalkan. -- Aku mencarinya di dalam tas, semua isi tas kukeluarkan dan kuletakkan di atas meja. Namun tetap tidak ada. Aku mencari di kolong meja, mencari di bawah meja dan bawah kursi. Hingga sepertinya laki-laki di sebelahku terganggu dengan keribetanku. "Ribet banget." Katanya datar sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Aku menoleh ke arahnya sebentar "Apaan, sih, lu?" Balasku kesal. Lalu lanjut lagi mencari-cari pulpenku di dalam tas. Aku ingat betul selalu meletakkan pulpenku di bagian depan tas. Namun pagi ini entah kenapa ia menghilang. "Kaya enggak ada pulpen lain aja." Ucapnya sinis. "Apaan, sih? Orang gue cuma punya satu! Lagian, lu, temennya lagi susah nyari pulpen, bukannya bantu, malah nyinyir." Balasku kesal. Ia menoleh ke arahku. "Mana ada pelajar ke sekolah cuma bawa pulpen satu?!" "Gue cuma bawa satu." Terdengar suara salah satu siswa yang duduk di bagian belakang. "Gue juga bawa pulpen satu doang." Terdengar suara siswa yang lainnya. "Denger, kan, lu? Bukan cuma gue yang bawa satu pulpen ke sekolah. Banyak! Makanya jangan samain orang-orang sama lu. Mentang-mentang rajin, teliti, rapih, dan semua alat tulisnya lengkap!" "Bawel!" Ketusnya sambil membuka buku catatannya. Ia mulai fokus dengan buku catatannya itu. "Yaudah gue pinjem pulpen lu, satu." "Gue cuma bawa satu." Jawabnya pelan. "Bintaaaang!" Teriakku. Bintang terkejut melihatku. Dan sepertinya seluruh siswa di kelas juga menoleh ke arahku. Termasuk Bu Vivi yang sedang duduk di kursi guru. Aku tertunduk malu setelah tidak sengaja membentak Bintang yang tingkahnya selalu saja seperti minta dimaki-maki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines