"Mungkin dulu kamu selalu dikejar oleh para perempuan. Sekarang, kamu mengejarku. Bagaimana rasanya?"
Lelaki itu dibuat diam. Sekarang ia paham. Gadis itu sangat membencinya.
Melihat lelaki itu terdiam, sang gadis kembali melanjutkan ucapannya, "mungkin dulu aku terlalu fokus mengejarmu sehingga aku tak sadar kau sudah berhenti jauh dibelakangku."
"Maka dari itu, sekarang kau harus mengejarku bukan?" tanya sang gadis.
Setelah lama berdiam tak menjawab sang gadis. Lelaki itu akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Kamu benar. Aku sudah tertinggal jauh dibelakangmu. Bisakah kamu berhenti dan menungguku? Supaya tidak ada yang terdahului maupun mendahului."
Sang gadis terkekeh, "menunggumu? Bukankah kau tahu aku tak suka menunggu?"
Lelaki itu tersenyum miring, "jika kamu tidak suka menunggu. Maka biarlah aku yang akan berusaha sejajar denganmu."
Tanpa menunggu perkataan dari sang gadis. Lelaki itu pergi meninggalkan kelas itu.
Cantik, pemberani, labil dan memiliki anger issues. Seperti itulah Afika di mata orang-orang.
Suara hentaman, pukulan serta erangan sudah tak asing lagi di telinganya. Semenjak ia kenal dengan seorang pria bernama Sean, entah kenapa tiba-tiba saja Afika dihadapkan dengan banyaknya masalah.
Namun di sisi lain, masih ada sosok Afkar yang dikenal sebagai cowok dengan penuh rasa sabar, ia terus berada di samping Afika baik dalam keadaan suka maupun duka. Ah, kalau bukan karena berhutang budi, Afkar juga enggan berurusan dengan gadis itu.
"From now and on, your being my girlfriend, ok? Gue nggak terima penolakan, titik."
"Lo itu lebih dari apapun di hidup gue, Fik. Jadi gak usah aneh-aneh deh, atau gue bakalan cepuin hal ini ke Bokap lo?"
"Stress, pokoknya gue stress kenal lo semua! Gue muak!!!"