Story cover for G  A  N  Ē  S  Z  I by Basoachi
G A N Ē S Z I
  • WpView
    Reads 120
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 5
  • WpView
    Reads 120
  • WpVote
    Votes 20
  • WpPart
    Parts 5
Ongoing, First published May 16, 2020
"Kita berhitung dulu!"

"Buat apa?!"

"Kita nih jumlahnya ada berapa! kalo kurang satu kan tinggal dicari, lah kalo lebih satu?"

"Jangan bikin ngeri dong!"

"Nggak bikin ngeri, kita nih kudu jaga-jaga."

"Cepetan berhitung. Satu!"

"Duaa."

"Tiga!"

"Empaaat."

"Lima."

"Enam! Enam!"

"Tujuh nih!"

"Delapan."

"Sembilan!"

"Se.. pu.. luh . . ."

"Eh sepuluh? Siapatuh?!"




BELUM REVISI


[ b a s o a c h i  o f f i c i a l ]
All Rights Reserved
Sign up to add G A N Ē S Z I to your library and receive updates
or
#518lover
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓ cover
From Home : Life Is Still Going On  cover
Ketua [END] cover
Friend? ×Park Woojin×✔ cover
ACE OF GANGSTERS | HAECHAN TWINS ✅ cover
ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓ cover
"Gue Ganteng!!" (COMPLITED) cover
Crazy Student and Bad Teacher cover
Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream cover
Our Juvenile : MANGUN KARSA cover

Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓

15 parts Complete

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."