no signal

no signal

  • WpView
    Reads 160
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 21, 2023
WpInfo
Fanfic
NCT
"Kita berhitung dulu!" "Buat apa?!" "Kita nih jumlahnya ada berapa! kalo kurang satu kan tinggal dicari, lah kalo lebih satu?" "Jangan bikin ngeri dong!" "Nggak bikin ngeri, kita nih kudu jaga-jaga." "Cepetan berhitung. Satu!" "Duaa." "Tiga!" "Empaaat." "Lima." "Enam! Enam!" "Tujuh nih!" "Delapan." "Sembilan!" "Se.. pu.. luh . . ." "Eh sepuluh? Siapatuh?!" BELUM REVISI [ b a s o a c h i o f f i c i a l ]
All Rights Reserved
#689
jaehyun
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • We Have Problem || YoonTaeKook
  • SOSIAL MEDIA (MAIN CHAR ALL HYBE IDOL) || FULL VER
  • Crazy Student and Bad Teacher
  • "Gue Ganteng!!" (COMPLITED)
  • GEVRONZ
  • Sepekan Penuh Sayang [Tamat] || Jeno & NCT Dream

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines