My Mysterious Boy

My Mysterious Boy

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 18, 2020
"EH AXEL TUNGGUIN DOONG!!" Gadis dengan rambut panjang itu pun berlari kearah pemuda yang berjalan santai menuju kantin. "Xell, gue suka lo dari dulu masa ga diterima sih!" gadis itupun berhasil mencekal lengan pemuda itu, dan langsung di tepisnya kasar, gadis itupun hanya tersenyum, seolah sudah terbiasa. "Xeell, lo mau ga jadi pacar gue?" Gadis itu maju selangkah hingga bisa sejajar dengan pemuda itu. Pemuda itu tampak menautkan kedua alisnya lalu tersenyum remeh. "Mimpi" Setelah mengatakan itu, Pemuda itu langsung pergi meninggalkan seorang gadis yang kini sedang tersenyum masam ke arahnya. USAHAKAN MEM FOLLOW SEBELUM MEMBACA:>
All Rights Reserved
#15
axel
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rainbow In The Rain
  • Persona
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • CACING PITA
  • My Annoying Ketos
  • Kayla
  • Here I'm Waiting For [You]~(END)
  • AlAz  (end)
  • Stay here
  •  BAD GIRLS

"Kamu sengaja kan mau di tabrak sama cowok tampan sepertiku? Terus kamu pura-pura kesakitan dan minta diobatin?" Kevin malah menuduh yang enggak-enggak. "Ciih~Enak aja. Aku gak serendah itu ya, lagian kamu kegeeran banget sih. Aku tadi cuma mau minta tolong aja kok." ia mengotot keras dan mengangkat kedua bahunya. "Terserah!" Kevin memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya kembali. "Eh, bantuin dulu kenapa. Jahat banget itu orang, awas aja kalo butuh bantuan!" Jenie ngomel sendirian sambil menendang sepedanya. "Dia kan pinter ya, mana mungkin minta bantuan sama aku. Yang ada juga malahan aku yang minta bantuan dia, tapi itu gak bakalan terjadi. Gak level banget Jenie minta bantuan dia." Jenie memukul kepalanya karena dia bertingkah bodoh dan konyol Hari ini hujan turun lagi, Jenie membawa kursi rodanya berjalan kedepan jendela kamarnya yang tepat memandangi seisi kota. Hujannya lebat, suara gemuruh dan petir mengagetkan gadis itu. Dia mencoba membuka matanya dan tak menutup kedua telinganya, matanya tertuju pada sebuah pemandangan indah diluar sana. Tepat di atas langit pelangi muncul bersama dengan hujan, ini adalah kedua kalinya dia melihat keajaiban itu lagi. Tapi sekarang rasanya beda, dia melihat keindahan itu tanpa Kevin disampingnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines