VILLA TERKUTUK

VILLA TERKUTUK

  • WpView
    Reads 794
  • WpVote
    Votes 100
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadComplete Tue, Sep 8, 2020
Menceritakan kisah empat sahabat yang liburan ke Villa. "Besok kita harus pergi dari Villa ini, kalau tidak akan membahayakan nyawa kita, bukan hanya Jia."tekad Brama. " Eh! Nira ga ada" seru Jia. "Hah?!, lu jangan bercanda ya" ucap Rizky kaget. .............Baca cerita selanjutnya........... By.Zara Sabila Follow juga: zaraa_103🌟 Happy Reading🤩
All Rights Reserved
#860
indigo
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • Love in silence
  • [COMPLETED] Please, Stay With Me..
  • TABIR ILUSI ( TAMAT )
  • ketika senja menyapa
  • Gadis Indigo?[On Going]
  • KENNARD - Living with the Bad Boy
  • REVANO UNTUK REVA
  • The Villa
  • ALGARA & ALTARA [End]✓

"siapapun tante, adik ayah, adik bunda, tetangga atau simpanan ayah, aku anggap tante cuma benalu tau" ucapku memberi penekanan pada kata simpanan. Wajah Tante Dista terlihat terkejut. "heiii.."ia membentakku "ga pernah di didik ya sama bunda mu, ternyata bundamu itu ga becus jadi seorang ibu ya pantas saja ayahmu tergila gila pada ku" "kamu ga usah senang dulu, suatu saat nanti aku yang akan mengusirmu dengan tanganku sendiri" sambungnya Aku menyeringai "barusan kau buat pengakuan kan" tanyaku menatapnya jijik. Tante Dista terlihat kikuk. "hahaa..... Jadi kau memang simpanan ayah. Dan masih sanggup tinggal dirumah kami. Ga tahu malu"ucapku dengan penekanan di kata simpanan dan malu. "kauuu-"ucapnya tertahan ketika bunda mulai mendekati kami. Aku mendekat ke arah tante Dista tetap mempertahankan senyum palsuku. Menginjak kakinya dengan keras, dan pura pura mencium pipinya dengan mesra. Dia menjerit tertahan dan aku senang. Tanganku yang bebas menarik rambutnya yang terjuntai panjang. Dia meringis dan mencengkram tanganku kuat kuat. Bunda tak pernah tau itu. Bunda hanya tersenyum dan menganggap semuanya akan baik baik saja. Padahal aku dan tante Dista sedang menyiapkan strategi perang kami masing masing.

More details
WpActionLinkContent Guidelines