Ragaku
  • WpView
    LECTURES 64,826
  • WpVote
    Votes 3,323
  • WpPart
    Chapitres 64
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., août 26, 2022
Aku tiba-tiba menerima panggilan telpon dari nomor private. Karena merasa penasaran, aku sedikit menjauh dari kebisingan teman-temanku. Sore itu, aku, Raga dan teman-teman kami sedang bersantai disebuah private villa didaerah Uluwatu. Kuberikan kode kepada Raga sambil mengacungkan handpone. Raga hanya membalas dengan senyuman lembutnya sembari mengangguk kecil. "Halo..." "..." "Iya, saya sendiri mbak. Dengan siapa ya, maaf..?" "..." Selanjutnya aku hanya terdiam mendengarkan. "..." "Okay, kamu tenang aja. Anak kamu gak akan lahir tanpa Ayah. Terimakasih !" Dengan nada suara tenang aku mengakhiri panggilan itu. Seketika terasa seperti duniaku runtuh. Kucengkeram peganganku, air mataku luruh tak terbendung. Dengan langkah pelan kutinggalkan Villa itu. 2 tahun kemudian berlalu... Seseorang mengetuk pintu kamarku saat tengah liburan diBali. Aku tertegun menatapnya. Sedih namun rindu.Raga ingin memulai kembali. Menjadi Ragaku seperti sebelumnya.
Tous Droits Réservés
#550
smp
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Tuan RADITYA Ayah sahabat ku
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • my bad boy
  • Laskar Jingga
  • Not A Perfect Husband ✔
  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Cinta Yg Tumbuh Lewat Rahasia
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Arsyilazka

Namaku Keyla. Hidupku biasa saja sampai aku bertemu Tuan Raditya-ayah dari sahabatku, Alika. Ia pria paruh baya, kaya, dingin, dan penuh aura berbahaya. Semua orang menghormatinya... atau takut padanya. Tapi tidak aku. Entah sejak kapan, aku mulai memperhatikan pria itu-ayah sahabatku sendiri. Dan yang lebih gila, aku jatuh cinta padanya. Tuan Raditya terlalu tua, terlalu kejam... dan terlalu terlarang. Pertama kali aku datang ke rumah Alika, aku langsung merasa asing. Rumah besar dua lantai itu terlalu sepi, terlalu rapi, dan terlalu dingin. Alika bilang ayahnya jarang pulang. Tapi hari itu, saat kami baru naik ke lantai dua, suara langkah berat terdengar dari tangga. Aku membalikkan badan. Seorang pria tinggi berdiri di sana, jas hitamnya seperti menelan cahaya. Wajahnya tegas, mata tajam, dan sorotnya menusuk seperti pisau. "Siapa dia?" tanyanya dingin. Alika menggenggam tanganku. "Ini Keyla, temanku." Tuan Raditya menatapku tanpa senyum. "Jangan bikin berisik. Rumah ini bukan tempat main." Tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu. Aku menelan ludah. "Dia selalu begitu," bisik Alika. Tapi anehnya, sejak hari itu... aku ingin tahu lebih banyak tentang pria itu. ---

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu