LAMARAN
  • WpView
    Reads 170,107
  • WpVote
    Votes 3,539
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jan 14, 2022
"Bang Sul, ayo nikah!" Seumur hidup hingga usianya dua puluh delapan tahun, tak pernah terbayang bahwa Sultan akan dilamar bocah baru meletek. Dunia terasa lucu saja, padahal ia tak pernah berbuat aneh. Bagi Ava, laki-laki pemilik toko alat-alat komputer di seberang tak sekadar menarik. Melainkan ... istimewa. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa melamar Sultan cepat-cepat. Sebelum ada perempuan lain yang mendahului bahkan menyentuh lelaki itu. Meski dengan cara yang memalukan. Atau, desahan-desahan imutnya tak akan didengar Sultan. Padahal ada Rahina yang lebih matang sudah Sultan gadang sebagai penyeimbang kedewasaannya. Pun dengan Erga yang membuat Ava nyaman dan ketagihan. Apa lagi yang dicari?
All Rights Reserved
#82
gaya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Soulmate (SEBAGIAN PART DI HAPUS KARENA SUDAH TERBIT)
  • Bad Boy Erlangga
  • Annoying Boy & Good Papa
  • ALENCHA [END]
  • SENI MEMAHAMI HATI ISTRI
  • JODOH salah ngomong
  • Massuro
  • Timpang Tindih
  • Way To You (END)

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines