We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
3726 MDPL
  • WpView
    Reads 5,366
  • WpVote
    Votes 155
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, May 2, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA. AGAR NANTI, JIKA UPDATE PART BARU KALIAN BISA TAU DAN BISA LANSUNG MEMBACANYA. --------------------------------------------- Tak perlu waktu yang lama untuk Putra menyelesaikan puisinya. Bagaimana tidak, hampir setiap hari Putra menulis puisi. "Nih, udah selasai, " ucap Putra sambil menydorkan secarik kertas kepada Rinjani. Dan dengan cepat Rinjani langsung meraih kertas itu dan membaca puisi yang ditulis oleh Putra. *Bidadari yang bernama Rinjani* Pagi ini aku rasa cukup berbeda dari pagi yang biasanya Tentu aku bisa merasakannya Dan pasti seisi bumi juga bisa merasakannya Pagi ini Ada bidadari yang baru turun kebumi Tak banyak yang menyadarinya Hanya aku saja Bidadari itu kini ada di tengah kota Di sebuah warung yang sederhana Duduk di depan seorang lelaki yang bernama putra Lelaki yang tak pernah berhenti memandangi wajahnya Dan kini aku tahu, Rinjani, itulah namanya #Pagi bersama Rinjani Tak ada kata yang terucap dari bibir manis Rinjani, ia hanya memperlihatkan senyuman yang berbentuk bulan sabit kearah Putra.
All Rights Reserved
#9
pendaki
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • JAM 3 SORE
  • Diary Salsa (Completed)
  • Javas Drexzer [END]
  • TIANNE (My Happiness Is In You) (✓)
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • AlfAbel [END]
  • Jingga dan Senja [SUDAH TERBIT]
  • EPIPHANY
  • Become a Parent's [END]
  • Untuk, Abadi | Completed ✔

JANGAN LUPA FOLLOW DAN VOTE SETELAH MEMBACA‼️ 🌥️🌥️🌥️ Jam tiga sore. Hujan turun pelan-pelan. Langit kelabu, suara kelas yang riuh, dan satu orang yang selalu duduk di belakangnya. Berisik, nyeleneh, dan nyebelin. Tapi entah kenapa Naya tak pernah terganggu sedikit pun. Naya tidak tahu kapan tepatnya Aksa mulai masuk ke pikirannya. Mungkin sejak kertas origami berbentuk kodok itu muncul atau tulisan miring Aksa yang berkata "Ini nggak bisa menggonggong, tapi bisa lompat ke hatimu." Awalnya dia mengira Aksa hanya cowok absurd yang suka gambar bebek pakai helm di dinding toilet sekolah. Tapi lama-lama... langkah kakinya jadi yang paling ia kenali. Diam-diam jadi yang paling ia tunggu. Mereka bukan kisah cinta yang gegap gempita. Tidak ada janji manis. Tidak ada gombal yang bikin meleleh, hanya obrolan aneh yang bisa membuat rindu terus bertahan. Membuat perasaan tumbuh seperti hujan-pelan, tapi pasti meresap. Kisah mereka cuma tentang momen-momen kecil yang ternyata besar. Tentang sosok yang nggak sempurna, tapi justru bikin dunia seseorang terasa lebih hidup. Tentang pertemuan yang tak disengaja, kenangan yang tak bisa hilang, dan jarak yang kadang hadir bukan karena ruang, tapi karena waktu dan keberanian yang tertunda. *********** Selamat menelusuri jejak rasa yang tak pernah benar-benar pergi. Selamat membaca-semoga kamu temukan dirimu di sela-sela kisah ini. Jangan lupa tinggalkan jejakmu-vote, komen, dan bagikan kisah ini agar rindu tak hanya menjadi milik kita ❤️ NOTE : DILARANG PLAGIAT‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines